Rabu, 12 November 2014

Dear Best Friend, Listen to Me...



Dear Best Friend, Listen to Me…

Mereka berkata, Jatuh cinta itu adalah hal yang menyenangkan. Benarkah? Apakah itu yang aku rasakan? Yang ada malah sebaliknya! And I thought it was only a suggestion.
***
Do you hear me? I’m talking to you
Across the water across the deep blue ocean
Under the open sky, Oh my baby I’m trying

Boy I hear you, in my dream
I feel you whisper across the sea
I keep you with me in my heart
You make it easier when life gets hard

Lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again

They don’t know how long it takes
Waiting for a love like this
Every time we say good bye
I wish we had a one more kiss
I’ll wait for you, I promise you, I will
Well, so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Through the breezes through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world as spinning around
You hold me right here right now
 Lucky I’m in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again
Lucky we’re in love in every where
Lucky to have stayed where we have stayed
Lucky to be coming home someday..
“Kau yakin mau membawakan lagu ini?”
“Ya, mengapa tidak? Lagipula kau juga sudah menguasai lagu ini kan, Cloudy?”
“Ya, memang aku menguasainya. Baiklah terserah padamu. Aku hanya mengikutimu saja” aku tersenyum ke arah James, sahabatku.
“Baiklah, jika begitu aku akan pulang. Sampai jumpa besok, Candies”
“Aku Cloudy, bukan Candies, bodoh!” James hanya tertawa sambil berlalu

Hari ini hari minggu, and you know what? Ya! It’s weekend. Tapi tahukah kau? Tak ada yang dapat aku lakukan selain menghabiskan waktu bersama James Drew Valery. Sahabatku sejak tiga tahun yang lalu.
“Hello Candies” sapanya tanpa mengetuk pintu dan masuk tanpa permisi. Siapa lagi? Siapa lagi orang yang memanggilku Candies? Padahalkan aku bukan permen!
“Hi, Jane!” jawabku malas
“Aku James, bodoh!” James mengacak-acak poni-ku
“Dan aku Cloudy, bukan permen”
“Haha, baiklah-baiklah. Maafkan aku, Cloudy McCounts. Ayo mulai latihan” ajaknya, lalu kami menanyikan lagu yang kami sepakati akan ditampilkan saat pentas seni nanti.
***
Aku melangkah keluar dari ruangan musik. Aku menanti James yang sedaritadi tak kunjung datang.
Ketika aku berdiri di ambang pintu, aku segera menarik tubuhku ke belakang. Aku kaget. Aku segera mengembuskan napas lega dan mengelusi dada. Well, aku melihat James sedang bermesraan bersama kekasihnya, mungkin.
“Cloudy, sedang apa di sini?” suara James mengagetkanku, aku terkesiap dan segera mengembuskan napas lagi
“Kau! Lama sekali” desisku kesal, aku menghentakkan kaki dan segera pergi
“Mau kemana kau, Cloudy?”
“Pulang” teriakku tanpa menoleh ke belakang
“Kita tidak latihan?” James sudah ada di dekatku
“Sudah kubilang aku ingin pulang. Pergi sana!”
“Cloudy kau kenapa?” aku menggeleng lalu segera melangkah pergi. Huh! Tukang ingkar janji.
Aku melemparkan tubuhku ke atas pembaringan. Aku mulai berpikir jika istilah Catching Feelings itu sagat meyakitkan. Aku lelah dengan kata itu sebenarnya. My mind says like ‘Go! Forget him. Look away for a new guy’. But my heart says like ‘Remember? You two are best friend since a long time. That’s not rude if you love him. Just follow your heart’. Ah! It’s so complicating!
Mungkin lebih baik aku mengikuti apa yang pikiranku katakan. Aku lelah mendengarkan kata hatiku yang justru malah terus menerus membuatku terpuruk dan malah sakit hati. Ada baiknya aku mulai melangkah dan mencari hal baru yang belum kuketahui. Ya, itu semua karena aku terlalu lama terjebak dengan seorang pemuda yang sama sekali tak mau menyadari kehadiranku. Aku harus meninggalkan semuanya. Kau tahu? Semuanya! Aku meraih ipod kesayanganku dan mulai mendengarkan lagu-lagu yang kusukai.
Ketika beberapa lagu telah selesai dan kini sebuah lagu membuatku teringat akan James lagi. Baru saja beberapa hari yang lalu kami sudah bersepakat untuk menyanyikan lagu ini saat pensi nanti. So I push the ‘Next’ button. Kebetulan lagu berikutnya adalah lagu yang membuatku tersenyum sendiri mendengarnya. Lagu ini benar-benar menggambarkan kebingunganku.
Here’s my dilemma
One half of me want ya
And the other half wants to forget
My-my-my dilemma from the moment I met ya
I just can’t get you out of my head
And I’ll tell myself to run from you
But I find myself attracted too
My dilemma my dilemma is you..
Ah kenapa aku tak menyadari lagu ini sangat pas untukku? Segera kuambil gitar kesayanganku dan mulai mencari chord yang sesuai. Sebuah ide terlintas. Ah, lumayan juga.
***
Kekasih James yang mungkin menyadari kedekatanku, dulu. Mulai menunjukan ekspresi dan sikap tak sukanya terhadapku. Tadi siang, sepulang sekolah. Charlotte dan kawanannya menghamipiriku dan mengatakan entahlah apa itu. Yang pasti ketika aku baru keluar dari ruangan musik, ia mendorongku masuk kembali ke ruangan. Ia dan kawannya menunjukan tatapan tak suka. Aku tahu dan aku sudah paham apa alasan mereka menatapku seperti itu.
“Kau! Jauhi James. Berhentilah mencoba menggodanya!” Charlotte menggeram. Aku menatapnya tajam. Aku tak suka dengan ucapannya yang seenaknya. Aku menarik napas panjang untuk menetralkan amarahku. Aku sedikit berdeham.
“Maaf, lagipula James tak pernah mengatakan ia memiliki kekasih. Lagipula, aku dan dia hanya berteman” jelasku enteng tanpa melepaskan tatapan tajamku terhadapnya. Charlotte memutarkan bola matanya
“Aku tak ingin tahu soal itu. Yang pasti sekarang kautahu aku kekasihnya. Dan kuminta kau menjauhinya. Ingat, aku bisa lebih kejam daripada ini”
“Baiklah. Lagipula, aku tak sedekat dulu dengan kekasihmu itu. Nikmatilah. Dan aku tak peduli sekejam apapun dirimu” aku mendorong bahu kanannya pelan untuk mencari jalan. Dia menyeringai menunjukan deretan giginya, seperti singa yang siap menerkam. Oh Astaga! Apakah mereka tak tahu aku tak selemah yang mereka kira?
Nama James terpampang di layar handphone-ku ketika benda ini bergetar. Ah, aku sudah malas berhubungan dengannya. Apalagi, nenek sihirnya mulai mencoba menerorku yang samasekali tidak peduli tentang itu. Dengan malas, kulemparkan benda ini ke sembarang tempat, aku segera memasang headphone, dan kembali berbaring tanpa peduli seberapa lama benda yang kini menjadi membosankan itu bergetar. Aku sudah tak peduli.
Aku tahu, aku yang sebenarnya bersalah. Kau tahukan? James tak tahu apa-apa tentang perasaanku terhadapnya. Tapi untuk mengantisipasi semuanya. Aku lebih baik menjauh sebelum segalanya terlalu sulit untuk dihindari, mm maksudku diselesaikan. Aku ingat, Charlotte adalah teman baikku dulu. Entah mengapa, James meminta bantuanku untuk lebih mengenal Charlotte, setelah itu aku tak tahu alasan jelasnya, yang pasti Charlotte menjauhi aku. Aku tahu, sejak sebelumnya aku berpikir. Kenapa Charlotte tidak berterima kasih? Berterima kasih atas bantuanku, sampai akhirnya ia bisa menjalin hubungan spesial dengan pemuda incarannya? Ya, pemuda yang kucintai.
Esoknya, James menyapaku seakan tak terjadi apa-apa. Oh ya, aku lupa ia memang tak tahu-menahu tentang permasalahan ini. Ia bersandar di samping loker-ku, ia tersenyum dengan kedua tangan yang dimasukannya ke dalam saku celana jeans-nya.
“Candies, kau kenapa? Kau ada masalah?” tanyanya perhatian
“Ya, berhenti memanggilku Candies dan jangan dekati aku lagi” desisku dengan nada tajam. Aku menutup lokerku keras-keras. James kaget, namun aku melangkahkan kakiku secepat mungkin. Tapi tetap saja James masih bisa mengejarku. Dan lebih buruknya, ia memegang tanganku sekarang.
“Tapi kenapa, Cloudy?” tanyanya cemas
“Tak apa. Aku hanya ingin kau menjauhiku. Mengerti?”
“Apa karena aku terlambat datang waktu itu?”
“Tidak. Kau tak perlu  tahu. Minggir!” aku menyingkirkannya dari depanku. James memanggil-manggil namaku. Aku muak. Perasaanku masih kuat, namun kenyataan bahwa kekasihnya mengatakan hal yang tidak-tidak. Dan aku tak suka apa yang dikatakan Charlotte tentang itu. Maka, aku lebih memilih menjauhinya.
Hari-hari berikutnya aku sudah mulai terbiasa berada di sekolah tanpa teman. Aku menghabiskan waktu di ruang musik yang selalu kosong. Aku berlatih untuk penampilanku sabtu ini. Aku harus menampilkan penampilan terbaikku.
***
Aku sudah siap dengan semuanya. Kostum, suara dan gitar kesayanganku tentunya. Hari ini aku akan menyanyikan dua buah lagu. Kedua lagu itu dinyanyikan oleh Selena Gomez, karena kupikir kedua lagu itu sangat menggambarkanku.
Setengah acara telah dilalui, baru saja aku turun dari panggung setelah lagu pertama yang kunyanyikan. Aku tahu, My Dilemma bukan ide yang buruk. Responnya tidak terlalu buruk. Beberapa fans Selena ikut berdendang, dan yang pasti di akhir lagu mereka bertepuk tangan.
Aku duduk di barisan depan. Sendiri. Aku sempat melihat James bersama Charlotte yang sedang bergelayut manja di lengan James. Ish, menjijikan. Kau tahu apa yang lebih menjijikan? Ya, ketika aku tanpa sengaja melihat mereka sedang berciuman di depan ruangan musik.
Penampilan demi penampilan telah berlalu, aku tak terlalu memerhatikan. Aku hanya terfokus dengan lagu selanjutnya yang akan kunyanyikan. Salah seorang panitia acara menepuk bahuku pelan, ia tersenyum ketika aku menoleh.
“Sekarang giliranmu, Cloudy” gadis yang tak kuketahui namanya itu menarik tanganku dengan lembut. Ia tersenyum saat aku naik panggung “Semangat!” bibirnya menggerakan kata itu. Ah, mungkin dia terinspirasi Jamie Sullivan dalam novel A walk to remember. Gadis religious yang ramah dan sangat senang membantu sesama bahkan bukan sesama.
Aku duduk di sebuah kursi yang cukup nyaman. Di hadapanku ada sebuah stand mic yang menyangga microphone. Dan tak lupa, aku memeluk sebuah gitar. Tanpa basa-basi aku segera memainkan gitarku dan segera bernyanyi setelah aku selesai memainkan intro lagu.
You had me to get her
And here, I thought it was me
I was changing, arranging my life to fit your lie.

It's all said and all done. I gave it all for the long run
Can she say the same thing?
I guess this is good-bye and good luck
I can't be what you want me to be

Aku dapat melihat semua orang menatapku ketika aku memainkan gitar sebelum aku menyanyikan chorus lagu ini. Terutama James dan Charlotte. Mereka menatapku dengan tatapan yang sulit ku terawang apa arti tatapan itu.
I'm sorry for changing
I'm sorry it had to be this way
Believe me, it's easier just to pretend
But, I won't apologize for who I am
No, no
Remember the time when you said you were out with your best friend
But it wasn't the best friend that you know
I thought you meant and
I used to accepted it
I didn't know I could be free

But I am, and I won't go back 'cause you so don't deserve me
I don't even want to be her

Charlotte menatapku tajam, mungkin ia menyadari apa maksudku dibalik lagu yang kunyanyikan ini. Ia pasti sadar jika aku juga menyukai James. Aku memainkan intro yang cukup panjang, lalu aku mulai melantunkan lirik berikutnya
I'm sorry for changing
I'm sorry it had to be this way
Believe me, it's easier just to pretend
But, I won't apologize for who I am
I thank you for this hopeless war
Cause through the pain now
I found I'm stronger than before

Now I want more
I don't need you anymore. I'm sorry

Aku menatap James dan Charlotte dalam waktu yang bersamaan dengan lirik yang kunyanyikan. Aku akan menatap mereka sampai aku menyelesaikan lagu ini.
Listen close I won’t say this again
I'm sorry for changing
I'm sorry it isn't like it was
Believe me, it's easier just to pretend
Now I won’t apologize
Why should I apologize?
But, I won't apologize for who I am

Aku tersenyum penuh kemenangan setelah menyanyikan lagu I won’t apologize ini. Semua yang ada bertepuk tangan dengan sangat meriah. Aku tak tahu. Tapi aku bersyukur atas itu. Semuanya terjadi karena merupakan bagian dari rencana Tuhan, itulah yang Jamie Sullivan katakan. Aku menatap Charlotte dan James lagi, James menunjukan ekspresi bersalah. Aku tak pedulikan itu. Yang pasti aku telah berhasil melangkah jauh dari mereka. Orang-orang yang hanya memanggilku dalam keadaan tertentu saja. I’m good alone. And I feel so much better without that hypocrites. Ah,  I feel so alive.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar