We Meet Again
Love
is just a word, until someone special gives it meaning
Aku berjalan menenteng tas berisi sahabat terbaikku,
kekasih sejatiku yang akan membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Laptop. Hanya
itu yang ada dalam tas itu. Gila memang, kekasihku hanyalah sebuah Laptop.
Aku memasuki Cafe dua puluh empat jam langgananku.
Aku segera mengambil tempat dan mulai bekerja. Seorang pelayan yang mungkin
sudah tahu apa yang biasa kupesan, hanya bertanya “Seperti biasa, Mrs?” dan aku
menjawab “Ya!” maka beberapa menit kemudian pesanan akan segera datang.
Aku mengetukkan jariku di atas meja kayu ini. Aku
bingung, kata apa yang harus aku ketik. Aku kehilangan inspirasi. Aku harus
bagaimana lagi setelah akhirnya aku malah bingung seperti ini. Tak lama setelah
aku terdiam, pesananku datang. Mungkin ada baiknya aku menenangkan pikiranku
dengan secangkir cokelat panas yang masih mengepul di sana. Di sampingnya
sepiring kentang goreng dilengkapi sedikit saus tomat di dalam piring itu.
Pesanan yang aneh memang, segelas cokelat panas dan seporsi kentang goreng
dengan saus tomat. Tapi tak apa, lagipula aku juga menyukainya. Ah sudahlah,
kembali pada kebingunganku ini.
Kusesap sedikit demi sedikit cokelat kental dalam
cangkir ini. aku membaca ulang kalimat-kalimat yang sebelumnya aku tulis,
sambil sesekali meraih potongan kentang goreng yang ada di dalam piring tadi.
Aku mengangguk kecil ketika aku paham dan mulai lebih mendalami alur cerita
yang sedang aku tulis. Karyaku ini setengah jalan, setengah lagi naskah ini
akan sampai di publishing yang tak
hentinya menanyakan karya terbaruku. Ah, aku serasa dikejar para depkolektor.
Dalam naskah yang sedang kubuat, yang kuberi judul Memories. Yang memang pada dasarnya aku
memasukan satu atau dua kejadian yang pernah kualami sebelumnya, aku hanya
ingin menguras emosi para pembaca, setidaknya aku mencoba semampuku walaupun
aku tak tahu apa yang akan terjadi pada para pembaca. Menulis sangat
menyenangkan. Bagiku, Writing is hard to
begin, but it’s easy when you have begun. Entahlah bagaimana, tetapi memang
seperti itu adanya. Aku mengetikkan kalimat berikutnya, dan aku sangat terlarut
sampai aku menyadari, malam sudah larut. Aku harus segera pulang. Tempat tidur,
selimut dan teman-temannya pasti telah menantiku sedaritadi.
***
Hari ini aku memutuskan akan mengetik di rumah saja.
Semoga aku dapat melakukannya, ya setidaknya aku berharap begitu. Walaupun
kupikir menulis di sebuah taman penuh bunga dan udara segar yang sepi akan
lebih meningkatkan inspirasiku, ah sudahlah lupakan. Hal itu hanya akan
mengingatkan aku pada seseorang. Satu-satunya orang yang menentang karierku dan
meninggalkanku karena obsesiku ini. Ah, sudahlah.
Aku sangat terlarut menulis naskah. Bukan karena
terlarut, namun aku dikejar waktu agar aku lebih cepat menyelesaikannya. Dalam
pengalamanku bertahun-tahun menulis, sebisa mungkin aku tidak mengandalkan
seorang editor sebagai bantuan. Dan sebisa mungkin aku melakukannya sendiri,
tanpa merepotkan orang lain.
Hari mulai sore, seharian ini aku tidak makan. hanya
sesekali meminum air mineral untuk menghilangkan dahaga. Perutku mulai
memberontak, aku lapar. Jadi, aku memutuskan akan menulis di Cafe langgananku
lagi.
“Seperti biasa, Mrs?” tanya seorang pelayan dengan
ramah
“Ya, terima kasih” pelayan itu sedikit membungkuk
lalu ia berlalu
Seperti Cafe pada umumnya, seluruh sudut ruangan ini
pasti dipenuhi gema musik. Aku tersenyum sambil menompang dagu pada tanganku.
Lagu ini, adalah lagu kesukaanku. Ah, kuharap begitu. Begin again. Lagu yang dilantunkan oleh Taylor Swift ini membuatku
sangat berharap aku berada dalam posisi gadis dalam lagu itu. Dalam lagu
mungkin she’s just waiting in a couple
months. But me, I’m waiting in a couple years for him. Ah sudahlah. It was only a wishful thinking.
Aku menutup mataku mencoba menikmati lagu yang
sedang diputar.
“Hey” sapa seseorang dengan tangan kanan yang
hinggap lembut di bahu kiriku. Aku terkesiap dan segera membuka mataku, aku
menoleh ke arahnya. Dan aku tahu aku langsung menahan napasku. Aku pasti
terlarut dengan khayalanku, iya kan? “Kukira aku salah orang. Ternyata tidak”
pemuda itu tersenyum
“Ah? Maksudmu?” tanyaku konyol yang membuatnya
terkikik, ia menarik kursi di hadapanku
“Hm, tidak. Bagaimana kabarmu, Abby McBrafley?”
“Ah, a-aku baik-baik saja. Kau sendiri, apa kabar, Riverious?”
“Aku baik-baik saja. Sangat baik malah” ia tersenyum
menatapku, aku hanya menunduk
“Sedang apa kau di sini?” tanyaku ingin tahu
“Kebetulan Cafe ini milik pamanku, jadi aku mampir
sebentar. Kau sendiri?”
“Kau tahu apa pekerjaanku, kan?”
“Ya. Oh pasti kau menulis naskahmu? Ditemani segelas
cokelat panas dan sepiring kentang goreng?” tanyanya ketika ia mengintip
pesananku
“Ya, kau benar” ah kenangan itu. Ya Tuhan
“Ternyata kau berhasil menggapai keinginanmu. Ya,
setidaknya ketika tak ada orang yang mengekang obsesimu, kau berhasil. Bahkan
kau lebih baik dari sebelumnya” desisnya
“Tentu saja, bahkan kau sudah tahu itu semua sejak
dulu. Dan obsesiku telah membantuku melalui keterpurukanku atas perlakuanmu”
ucapku kesal. Riverious mengembuskan napasnya
“Oh, aku minta maaf untuk itu”
“Tak perlu minta maaf. Kepergianmu menghasilkan buah
manis yang dapat kupetik, Riverious”
“Tapi sedikitnya kau kan kesulitan karena aku”
“Tidak, justru aku berterima kasih atas kepergianmu.
Sakit yang kauberikan waktu itu. Membuatku mendapatkan banyak inspirasi untuk
kutuangkan ke dalam sebuah karya. Dan aku bersyukur untuk itu. Aku tahu, Tuhan
berkehendak di balik semua ini” aku mengalihkan pandangan. Dan aku melihat
Riverious McCurves tengah menatapku kagum
“Kau semakin dewasa, Abby” pujinya
“Terima kasih, aku banyak belajar dari masa lalu
yang tak pernah ingin kuingat sebenarnya”
“Tapi aku tahu, kau tak pernah melupakannya” aku
menatapnya kaget, menuntut penjelasan atas pernyataannya “Karena, jika kau
melupakanku dan semuanya. Kau bahkan sama sekali tidak akan sudi untuk sekedar
membalas sapaanku”
“Tidak juga, aku hanya ingin berubah. Maksudku,
merubah kebiasaan jelekku yang dulu”
“Jangan mengelak, Abby. Aku telah mengenalmu lebih
dari tiga tahun” oh baiklah. Tuhan, Kau boleh merutukku sekarang
“Ah, aku bukanlah Abby yang dulu. Aku bukanlah Abby
yang dengan mudah dapat disakiti begitu saja oleh semua orang. I’m stronger than before, you should know
about that, River” ucapku angkuh
“Ya, aku percaya itu. Jika kau tak berubah. Kau tak
akan seperti sekarang. Tapi aku yakin, ada beberapa hal yang tidak berubah dari
dalam dirimu, Abby” ia menatap dalam mataku
“Benarkah? Apa itu?”
“Entahlah, kau yang lebih tahu semuanya, Abby”
Aku menunduk merenungkan apa maksud kata-katanya. Aku
tidak mengerti. Bagian mana yang tidak berubah? Ah, Riverious!
“Baiklah, sampai jumpa nanti Abby. Kuharap, kita
akan selalu bertemu di hari-hari berikutnya. Bye” ia tersenyum sambil berlalu
meninggalkan meja dengan gaya cool-nya.
Apa yang tidak berubah River? Ah…
***
Di hari-hari berikutnya, Riverious selalu ada di Cafe
pamannya. Ia menemaniku melanjutkan naskah yang sebentar lagi selesai ini.
Riverious kadang-kadang ketiduran saat menemaniku. Wajahnya tenang, dan aku
merindukan wajah tenangnya itu. Selain ketiduran saat menemaniku, biasanya ia
akan memasang headset dan bersenandung-ria
dengan suara yang kecil, alasannya agar ia tak mengganggu konstentrasiku.
Padahal aku tak masalahkan itu semua.
Hari ini, Riverious belum datang. Padahal biasanya
ia sudah duduk manis sambil menikmati segelas jangkung es jeruk kesukaannya.
Tapi, ia belum datang sekarang. Entahlah. Baiklah, tak apa. Lagipula, naskahku
juga sudah selesai. Aku kesini hanya untuk menikmati kentang goreng dan em
mungkin akan kucoba minuman kesukaan Riverious.
“Pesanan seperti biasa, Mrs?” tanya pelayan dengan
ramah dan bersiap mencatat pesanan
“Tunggu sebentar, tidak. Aku ingin memesan kentang
goreng dan es jeruk saja, ya” aku tersenyum pada pelayan yang telah selesai
menulis pesananku. Pelayan itu sedikit membungkuk dan berlalu untuk menyiapkan
pesananku.
Dimana dia ya? Ah, apalah aku ini. Ada apa aku malah
memikirkan heartbreaker itu? Ah,
sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia sedang berkencan dengan kekasih barunya.
Aku menajamkan pandanganku, aku melihat Band Cafe yang sudah lama tak muncul di
sini. Seorang gadis yang mungkin berusia tujuh belas tahun menjadi vocalist. Suaranya lembut, dan ia
mendendangkan sebuah lagu.
You
were my sun
You
were my earth
But
you didn’t know all the ways I love you
So
you took a chance and made other plans
But
I’ll bet you don’t think that they would came crashing down
Hey, itu lagu lama. Dan itu mengandung banyak
kenangan di dalamnya. Wow! Bagaimana Cafe ini sangat memahami isi hati
pelanggan? Ah…}
Aku menikmati lagu itu sambil meminum es jeruk dengan es batu di dalamnya. Hm, nikmat juga. Aku menggumamkan lagu itu sesekali.
Aku menikmati lagu itu sambil meminum es jeruk dengan es batu di dalamnya. Hm, nikmat juga. Aku menggumamkan lagu itu sesekali.
You
told me you loved me
But
why did you leave me all alone?
Now
you tell me you need me
When
you call me on the phone
But
boy I refuse you must got me confuse with some mother girl
Your
bridges are burn now it’s your turn to cry
Cry
me a river, cry me a river
Sebuah tangan yang hinggap di bahu kananku
mengagetkanku. Aku mengembuskan napas lega ketika kulihat yang datang adalah
Riverious.
“Mulai mencoba minuman kesukaanku?” godanya, aku
tersenyum
“Tidak juga, aku hanya mencoba menu baru”
“Baiklah, jika begitu aku juga ingin mencoba menu
yang biasa kau pesan” lalu ia memanggil seorang pelayan.
Ya Tuhan, apa ini perasaanku saja atau memang pemuda
di hadapanku ini memang tampan saat memakai setelan kemeja dan celana hitam
serta jas hitam menutupi tubuhnya? Ah sudahlah. Mungkin itu hanya perasaanku
saja. Lagipula siapa dia untukku?
“Hey. Kau melamun?”
“Aih, tidak. Memang kenapa?”
“Sedaritadi kau menatap penyanyi di sana”
“Oh itu. Ya, karena aku tahu dan menyukai lagu yang
dinyanyikannya”
“Cry me a
river?” aku mengangguk mantap tanpa menatap Riverious “Maafkan aku” aku
segera menatapnya heran
“Maaf? Untuk apa?”
“Maaf karena ulahku dulu. Karena aku sempat menjadi
penghalang dalam usahamu meraih impianmu. Maafkan aku juga karena aku
meninggalkanmu hanya karena masalah kecil. Aku hanya tak ingin selalu kau
acuhkan, selalu diduakan oleh naskah-naskah yang kau buat. Tetapi sekarang aku
tahu kenapa. Karena sekarang aku juga memiliki sebuah mimpi, sebuah impian
terbesar untuk kugapai, dan aku sadar betapa aku juga tak ingin ada orang yang
melarangku. Maafkan aku” ia berdiri dan menarikku ke dalam dekapannya. Aku
menatapnya penuh rasa syukur. Bersyukur karena ia sudah mau berubah. Menjadi
yang lebih baik.
“Baiklah, lupakan saja masa lalu itu. Aku tak mau
mengingatnya lagi. Lagipula, ada kebaikan dibalik semua hal yang sempat terjadi
dulu. Sudahlah, daripada kau terus-menerus mengatakan maaf, lebih baik kau
berjuang untuk mencoba menggapai semua impianmu, Riverious” aku tersenyum seraya
melepaskan diri dari dekapannya, aku memegang kedua lengannya, lalu beralih
memegang bahunya “Semangat! Kau pasti bisa” ia mengangguk. Dan kami kembali
terlarut dalam obrolan malam yang sudah lama sekali tak kami lakukan.
***
Memories
telah
terbit dan tersebar hampir di seluruh toko buku kota ini. Hari ini, aku akan
melaksanakan book launching event di sebuah toko buku. Aku
harus menyiapkan tangan kananku, maksudku karena hari ini aku harus
menandatangani puluhan buku yang para pembaca beli.
Riverious telah berjanji bahwa ia akan berada di
barisan terdepan untuk menandatangani buku yang dibelinya. Tapi, antrean
pembaca buku sudah cukup banyak, dan Riverious belum menampakkan dirinya. Ah
sudahlah. Lebih baik aku menandatangani buku-buku di hadapanku.
Sudah sekitar tujuh puluh buku lebih yang
kutandatangani. Setelah ini adalah sesi tanya jawab yang hanya berlangsung
untuk beberapa pertanyaan sebelum acara diakhiri. Seorang gadis berkacamata
mengangkat tangan kanannya, ia ingin bertanya.
“Hello, I’m Mandy. Aku ingin bertanya. Darimana kau
mendapat ide judul bukumu, Abby?” tanya gadis itu. Lalu ia kembali duduk dan
semua yang hadir memerhatikanku
“Hello Mandy, ide judul bukuku? Ah itu mudah. Kita
tahu sendiri bahwa memories itu
berarti kenangan. And you know? The side
of me really loves memories. Aku sangat menyukai kenangan, sebisa mungkin
aku selalu mengingat mereka, ya walaupun terkadang kenangan itu malah
menyakitiku ketika aku mengingatnya. Well,
but it’s me” gadis itu mengangguk lalu tersenyum puas. Lalu seorang pemuda
kurus dengan rambut brown spike mengangkat
tangannya
“Lalu apakah ada beberapa kenangan yang kau tuangkan
ke dalam buku ini?”
“Ah, pertanyaan yang menarik. Tentu saja ya. Kau
tahu, terkadang true pieces of writing akan
membuat emosi pembaca terkuras. Jadi, tentu saja aku menuangkan beberapa
kenangan yang kualami ke dalam buku ini” pemuda itu mengangguk-angguk. Kurasa
pertanyaan sudah cukup, maka aku menyarankan pembawa acara untuk menutup acara.
Namun, seorang pemuda mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Terpaksa closing dibatalkan untuk satu pertanyaan
lagi
“Jadi, dalam buku ini, kau menceritakan tentang
seorang pria di masa lalumu?”
“Ya, kau benar tuan” aku memandang pemuda itu
jengkel, sementara ia menatapku jahil
“Apa bisa kau publikasikan siapa pemuda itu, Abby?”
desaknya. Semua yang hadir saling bergumam dan sesekali menganggukkan kepala,
Astaga! Awas kau!
“Ya, Abby tak ada salahnya memberitahu para
penggemarmu siapa yang selalu menjadi pemeran utama dalam buku-bukumu” sang
pembawa acara mungkin ikut penasaran. Tapi baiklah, itu tantangan mudah. Dan
aku akan membalasnya dengan mudah.
“Baiklah, dia mantan kekasihku. Dan sebelum aku
berhasil menjadi penulis seperti sekarang, dia pernah mengekangku habis-habisan
dengan alasan tak jelas. Aku tidak tahu-menahu apa maksudnya, tapi saat itu aku
sangat membenci pemuda itu. Jujur aku menyayanginya, dulu. Sehingga saat ia
meninggalkan aku, aku sedikit kesulitan dalam beberapa hal. Ya, just like it’s hard just to breathe. Tapi,
aku belajar menjadi lebih dewasa dan kembali kepada impian besarku menjadi
seorang penulis, dan luka juga rasa sakit yang ia tinggalkan menjadi buku
pertamaku. Aku sangat bertertima kasih kepada mantan kekasihku itu” aku
tersenyum penuh kemenangan ke arah pemuda itu
“Bisa kau publikasikan namanya, Abby?” tanya Mandy.
Astaga, permintaan mereka mulai kacau
“Aahm, mungkin ti-“
“Baiklah, lebih baik kau publikasikan siapa pemuda
itu. Para penggemarmu menggila ingin tahu, Abby” pihak perwakilan publishing-ku membisiki aku. Aku menunduk
ragu untuk sesaat. Ini sama saja aku mengungkapkan cinta di depan publik.
“Ayolah, tak ada ruginya” bisiknya lagi
“Ah, baiklah. Pemuda itu adalah pemuda yang membuat closing ditunda” desisku, berharap
suaraku tiba-tiba habis dan suaraku tak terdengar. Tapi semua hanya harapanku
saja, semua dapat mendengarnya.
Semua mata tertuju pada Riverious McCurves. Ia
menatapku dengan tersenyum lebar. Aku hanya menunduk malu. Persetan denganmu,
Riverious!
“Nah, sekarang kita tahu siapa sosok yang selalu
menjadi inspirasi Abby dalam menulis naskahnya. Dan, ternyata pemuda itu berada
dalam Book launching event ini. How cute it was. Tapi, bagaimanapun
acara harus ditutup. Aku mewakili penulis, penerbit dan semua yang terlibat
dalam buku ini, mengucapkan banyak terima kasih. Selamat sore”
Acarapun selesai, beberapa pembaca mendekatiku dan
memintaku untuk berfoto. Ya Tuhan, aku lelah sekali. Keadaan toko mulai
melenggang. Para pengunjung sudah berhamburan keluar toko setelah mendapat
foto. Riverious mendekatiku dengan tersenyum lebar. Sementara aku hanya
menatapnya dengan tajam.
“Itulah satu-satunya hal yang kuketahui tak pernah
berubah, Abby. Kau selalu mengingatku. Dan aku tahu dibalik ingatan tentangku
itu, Abby” ia tersenyum lagi.
“Dan kau datang terlambat. Kau mengingkari janjimu”
aku mengerutkan bibirku seperti anak kecil meminta permen lolly. Aku hanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum lalu
merangkulku
“Maafkan aku. Baiklah, akan ku traktir makan malam,
bagaimana?” ia memang pandai merayuku
“Boleh, tentu saja boleh”
“Kau mau makan di restoran mana?” tanyanya seraya
kami keluar dari toko. Kami menuju parkiran, dan segera memasuki mobilnya yang
terparkir paling ujung dekat pintu.
“Di Cafe pamanmu saja, boleh?”
“Anywhere it
was. As long as I’m with you. It’s okay” aku tersenyum
***
Kami tiba di Cafe. Kami segera menuju meja kosong,
dan memesan makanan. Aku mendengar lagu yang operator putar. Entah suatu
kesengajaan atau kebetulan. Lagu yang diputar adalah Begin Again kesukaanku.
You
pull my chair out and help me in
And you don't know how nice that is
But I do, I do
And you don't know how nice that is
But I do, I do
Entah sudah direncanakan atau tidak. Tadi, Riverious
menarikkan kursi untukku. Ah ya Tuhan.
And
you throw your head back laughing like a, little kid
I think it's strange that you think I'm funny cause, he never did
And I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break, burn, and end
But on a Wednesday in a café, I watched it begin again
I think it's strange that you think I'm funny cause, he never did
And I've been spending the last eight months
Thinking all love ever does is break, burn, and end
But on a Wednesday in a café, I watched it begin again
Bukan, bukan delapan bulan. Namun tiga tahun. Dan,
tunggu. Hari apa ini? Is it Wednesday
today? Sungguh, ini adalah hari rabu. Aku ingat, pihak publishing-ku berkata bahwa hari rabu aku akan melakukan Book Launching Event. Ah, ini hanya
suatu kebetulan
“Jadi, sebagaimana yang kau katakana dalam bukumu. That, you never make another relationship,
because you still in love with your ex-boy is real?” ia membuka pembicaraan
“Hm, tidak juga. Aku hanya melebih-lebihkan untuk
menguras emosi pembaca. Kau tahu itu
sudah hampir tiga tahun yang lalu, River. Mana mungkin aku mengaharapkannya
lagi?”
“Dan kau tahu, Abby? Betapa aku ingin mengatakan
ini. kau pembohong yang buruk. Kau tahu? Aku
hanya melebih-lebihkan untuk menguras emosi pembaca. Kau tahu itu sudah hampir
tiga tahun yang lalu, River. Mana mungkin aku mengaharapkannya lagi?” ia
mulai menirukan cara bicaraku
“Apa maksudmu, Riverious?” aku bingung
“Kau tahu? Aku sudah lama mengenalmu. Aku tak
mungkin lupa dengan sikap dan perilakumu. Kau tak akan pernah melupakan orang
yang kau sayangi, Abby. Aku ingat itu, kau pernah mengatakannya. Dan aku akan
selalu ingat itu, untuk mengetahui. Apa kau masih menyayangiku atau tidak. Aku
sudah memahami sifatmu, Abby” ia tersenyum lembut. Aku menunduk malu
Riverious mengangkat daguku dengan tangan kanannya.
Ia membuat mataku bertemu dengan matanya. Ia tersenyum lagi membuat hatiku
terenyuh. Ia mengeluarkan sebuah kotak biru tua dari dalam saku jaketnya. Ia
membukakannya, sebuah cincin dengan batu berlian mungil berwarna biru shapiere terpampang indah di sana. Aku
terbelalak kaget melihatnya. Oh God, You
know? I love You!
“So Abby McBrafley,
will you marry me?” tanyanya dengan
senyuman lembut nan tulus yang membuatku tak mampu berkata apa-apa. Aku
tersenyum malu, lalu mengangguk kecil ke arah Riverious. Ia tersenyum lalu
menyematkan cincin biru shapiere itu
di jari manisku. Lalu ia memelukku dengan hangat.
But
on a Wednesday at a café. I whatched them begin again…
charming ti:p
BalasHapustambahin lagi Tia postingannya :D
BalasHapusUdah 6 juga:$
BalasHapuscerita nya yang aga horror atuh ti kali-kali hehe
BalasHapusLiat ke sebelahnya gera, cukup horor ko;;)
BalasHapus