Since the Day You Came…
Hampir semua ibu dari
teman-temanku tidak menyukaiku. Well, aku
tahu kenapa. Tapi aku tak permasalahkan itu semua. Aku sudah cukup lelah dengan
beban yang kupikul. Beban berupa ejekan karena ayahku hanyalah seorang pemabuk
kaya. Seperti orang yang berharap semua uangnya habis setelah membeli Fire Whiskey atau bahkan hanya anggur
murahan yang tidak memabukan sama sekali setiap malam. Ah, aku sudah lelah
memikirkan ayahku yang sialan itu. Bagaimana dengan ibuku? Jangan tanyakan,
ayahku menjadi seperti sekarang karena ibuku meninggal gara-gara kecelakaan
yang mereka alami. Maka, itulah alasan mengapa aku mulai berontak dan mulai
membangkang pada ayahku, yang sebenarnya tak patut untuk kupanggil ayah.
Aku bosan dengan
kehidupanku. Aku merindukan sesosok ibu dan teman yang bisa menerimaku. Tapi,
aku risih. Karena hampir semua yang mau berteman denganku hanyalah para kaum
Adam sebayaku. Aku berharap, ada seorang wanita yang baik dan manis yang
mengharapkan seorang anak baik sedang berjalan-jalan dan melihatku duduk
sendirian di kursi taman, dan menawariku untuk tinggal dan menjadi anak
angkatnya. Ah, aku sangat mengharapkan itu semua. Tapi bagaimanapun aku tak
bisa meninggalkan ayahku sendirian. Bagaimanapun, sejelek apapun perilaku
ayahku, aku tetap menyayanginya sebagai seorang ayah. Atau, tepatnya pria asing
yang kupanggil ayah.
Malam ini aku sendirian
lagi, seperti biasanya. Ayahku akan pulang saat malam benar-benar sudah larut.
Sempat aku menunggunya di ruang tengah. Aku melihatnya berjalan sempoyongan
dengan kancing kemejanya yang terbuka beberapa, rambut berantakan dan sebotol
minuman keras dengan merk yang berbeda-beda setiap malamnya ia genggam
erat-erat. Ia mengigau tentang seberapa bodohnya dia karena menyebabkan ibuku
meninggal. Aku sempat menyela bahwa itu
bukan salahnya, melainkan takdir yang Tuhan berikan untuk ibuku. Namun, yang
ada ayahku hanya menamparku dan mengatakan jika aku hanyalah anak kecil yang
tak tahu-menahu apa itu takdir Tuhan. Sejak hari itu, aku tak pernah mau
menunggunya di ruang tengah. Bahkan sampai saat ini aku tak pernah berbicara
sedikitpun pada ayahku. Aku lelah. Dan aku sudah menyerah. Aku hanya berharap,
Tuhan akan mengampuni dosanya yang mungkin telah bertubi-tubi. Bagaimanapun,
kehadiran ayahku sangat berarti bagiku. Aku tak mau kehilangannya seperti aku
kehilangan ibuku.
Aku sebenarnya lelah
mendengar ocehan para ibu yang mengetahui keadaan ayahku yang sekarang.
Seperti; “Jangan dekati Debby, ayahnya gila” atau “Jauhi gadis itu, aku tak mau
kau menjadi berandalan sepertinya” ucapan mereka seperti sudah terbiasa
melintas ke dalam indera pendengaranku. Aku hanya memutarkan bola mata saat
mereka berkata begitu.
Aku berjalan menuju
kelas. Tanpa memedulikan tatapan-tatapan mengejek yang mereka tunjukan. Ah aku
sudah terbiasa. Aku melangkah masuk ke dalam kelas. Keadaan kelas gaduh seperti
biasanya. Aku duduk di bangku paling belakang, sendirian. Aku tak masalahkan
itu. Lagipula kalaupun aku tak pernah memerhatikan guru, paling buruk aku akan
mendapat nilai B.
***
Aku menunduk membaca
sebuah novel di tanganku. Novel yang sangat kusukai. Novel karya Nicholas
Sparks yang entah tahun berapa diterbitkan. Aku suka sekali seorang Jamie
Sullivan. Dan aku ingin seperti dia. Bukan karena aneh atau penampilan rambut
digulung ke atas, serta sweater cokelat, rok panjang dan Alkitab di tangannya,
bukan. Bukan karena itu. Tetapi, karena Jamie memiliki ayah yang menyayanginya,
Hegbert Sullivan, seorang pendeta tua yang sangat menyayangi Jamie. Aku ingin
ayahku menyayangiku seperti Hegbert menyayangi Jamie. Aku sangat mengharapkan
itu. Aku sudah berkali-kali membaca novel ini, walaupun katanya novel ini
diangkat ke dalam sebuah film, aku belum pernah menontonnya. Dan aku tak pernah
bosan membaca novel ini.
“Hey” suara berat
menyapaku dengan menyentuh bahuku. Aku mendongak, aku tak mengenali pemuda ini
“Hey” sahutku dan aku
kembali membaca novelku
“Boleh aku duduk dan
berkenalan?”
“Silahkan” aku merasa
menjadi seorang interviewer galak
saat ini. Maka sebisa mungkin aku bersikap ramah pada pemuda ini, ya setidaknya
aku mencoba walaupun aku lupa bagaimana aku harus bersikap ramah. Kulihat ia
duduk di hadapanku, lalu ia menatapku
“Ah ya, namaku Freddie
Flickerman” ia mengulurkan tangan
“Aku Debby Rose. Nice to meet ya” desisku dengan menjabat
tangannya
“Ya, me too” ia menghela napas pendek,
sementara dengan berat hati aku menutup novelku. “Aku baru pindah. Kemarin
adalah hari pertamaku, aku belum punya teman” ia tersenyum
“Oh, pantas saja aku
tak pernah melihatmu sebelumnya. Dan, tentang teman. Kau tak perlu cemas, siswa
di sini cukup beradab untuk bersikap baik padamu” aku memutarkan mata dengan
acuh, heh beradab. Sebelah mananya? Freddie mengangguk kecil mendengar
jawabanku
“Kau bersedia menjadi
temanku?” aku kaget mendengar tawarannya
“Ah, lebih baik tidak
denganku. Kau tak akan mendapatkan teman lagi jika kau berteman dengan manusia
sepertiku” ia menatapku heran, namun senyuman masih tergantung pada bibirnya
yang tipis dan penuh itu
“Kenapa begitu?” ia
mengatakannya dengana lembut. Aku tahu, ia tak ingin menyinggung
“Aku salah satu siswa
yang paling tak disukai karena yaa keadaan ayahku yang berbeda dengan ayah
mereka. Begitulah, mereka menganggap aku berandalan, hanya karena aku sering
berkata kasar. Aku tak tahu apa alasan lainnya selain yang itu. Yang pasti
jangan mau berteman dengan manusia seperti aku. Aku tak akan menguntungkanmu”
dengan sabar aku menjelaskan. Aku tersenyum sepanjang aku berbicara, tak pernah
sebelumnya aku tersenyum lagi
“Kurasa tutur bahasamu
tidak sekasar itu. Bahkan, menurutku bahasamu sopan. Jika boleh tahu, ayahmu
kenapa?” tanyanya perhatian, aku tak pernah bisa tidak menjawab pertanyaan.
Sebenarnya aku tak pernah berubah. Aku masih buku terbuka, yang dengan mudah
orang lainb mengetahui rahasiaku
“Aku berkata kasar jika
aku marah dan kesal. Dan mereka tak tahu itu. Ayahku tak kenapa-napa. Hanya
saja setiap malam ia menghabiskan waktunya di bar miliknya. Mereka berpikir
ayahku gila. Padahal tidak, ia hanya merasa trauma setelah kepergian ibuku. Ah
kurasa sudah cukup kau mengetahui rahasiaku” aku tersenyum bermaksud ingin
menyudahi interogasi yang kami lalui, Freddie tersenyum
“Maafkan aku, aku tak
bermaksud. Aku hanya terlalu penasaran” ia terkikik kecil “Jadi bolehkan aku
menjadi temanmu?” ia menanyakan hal yang sama. Aku hanya takut Freddie akan
menjadi bahan olokan nantinya
“Aku sudah bilang lebih
baik kau mencari teman lain, dan jangan aku” aku tersenyum tak ingin
menyinggungnya
Setelah hari itu aku
berkata demikian pada Freddie Flickerman, setiap hari ia membuntutiku di
perpustakaan. Di meja ujung, sepi. Tempat persembunyian kesukaanku. Kami
berbincang seperti hari pertama kami bertemu. Aku senang karena ada orang yang
masih mau mendekatiku, setelah mengetahui rahasia yang kini tak layak disebut
rahasia, tentunya. Akhirnya, kami berteman. Dan seperti perkiraanku, banyak
siswa yang mulai mnegolok-olokan Freddie karena ia mau berteman dengan gadis
seperti aku.
“Freddie, aku tahu, dan
aku sudah menduganya sejak dulu. Lebih baik kau tak menjadi temanku. Kau
terlalu baik untuk menjadi olokan mereka, Fredd. Kumohon, jauhi aku”
“Anehnya aku tak
keberatan tentang itu, Debby. Aku tidak merasa terusik dengan olokan mereka.
Debby, kita semua memiliki hak untuk memilih apa yang terbaik untuk kita. Siapa
mereka? Mereka memiliki hak juga, tapi bukan hak melarangku untuk berteman
denganmu” Freddie memegang kedua bahuku. Ia tersenyum, senyumannya mengundangku
untuk balas tersenyum. “Keadaan akan berubah menjadi lebih baik, Debby”
Aku senang bisa
berteman dengan seorang pemuda bijaksana. Aku harap ia tak keberatan mendengar
ocehan tak beradab dari mulut siswa di sekolahku.
***
Malam hari, ayahku
datang dengan keadaan yang lebih buruk dari sebelumnya. Dan untuk pertama
kalinya aku menangis melihat keadaannya, ia pingsan dekat pintu kamarnya. Aku
berteriak meminta bantuan, dan aku dibantu salah satu pelayan di rumah.
Tadi malam aku menjaga
ayahku, aku melihatnya tertidur. Wajahnya damai, wajah damai yang sering ia
tunjukan seperti sebelum ibuku meninggal. Aku menangis mengingat kenyataan, aku
tak pernah melihat wajah damai ini ketika ayahku dalam keadaan sadar. Aku
memeluknya, aku berkata betapa aku tak mau kehilangan seorang ayah.
Bagaimanapun keadaannya, walaupun aku berharap ayahku masih menjadi ayahku yang
dulu. Aku benar-benar mengharapkan itu semua.
“Debby, kau baik saja?”
Freddie menyapaku di dekat gerbang sekolah, aku tersenyum tipis tanpa
menatapnya, lalu ia berjalan di sampingku “Ayahmu lagi?” aku mengangguk kecil.
Aku tak pernah bertingkah senormal ini beberapa waktu lalu.
Aku dan Freddie duduk
di ruangan olah raga yang sepi. Freddie seperti seorang psikolog bagiku. Ia
sangat baik sehingga aku merasa kasihan dengan kenyataan dia harus berteman
dengan gadis seperti aku. Kami terdiam tanpa satupun yang berbicara. Aku gerah
dengan suasana hening ini, maka aku mulai angkat bicara.
“Freddie, kau pernah
membaca novel A walk to remember?”
“Sebentar, tentang
Landon dan Jamie?” aku mengangguk “Pernah, aku suka buku itu. Kenapa?”
“Kau tahu kan sedekat
apa hubungan Hegbert dan Jamie dalam buku itu?” sekarang Freddie-lah yang
mengangguk lalu melemparkan tatapan kenapa
memang? “Aku ingin, aku dan ayahku memiliki hubungan yang sangat dekat
seperti mereka. Aku ingin menghabiskan banyak waktuku, bersama ayahku”
Freddie terlihat
berpikir, sesekali ia tersenyum ke arahku. Sepertinya ia punya ide bagus.
Meskipun aku tak melihat ada lampu menyala di atas kepalanya, aku melihat ia
tersenyum puas dan penuh antusias ke arahku. Ia mendekatiku, lalu ia membisikan
sesuatu yang membuat kedua ujung bibirku terangkat.
Maka, hari ini aku dan
Freddie pergi ke sebuah toko kaset dan membeli kaset yang kucari. Setelah
kutemukan kaset itu, aku segera menelpon ayahku. Aku merasa jantungku berdebar,
seperti sedang menelpon seorang presiden, padahal tak lebih ia hanyalah ayahku,
namun aku merasa asing, entahlah. Setelah aku berbincang dengan ayahku, aku
memekik kegirangan dan memeluk Freddie secara refleks. Aku melangkah mundur,
aku malu dan aku meminta maaf padanya. Ia hanya tersenyum dan berkata tak
apa-apa.
Saat tiba di rumah, aku
melihat ayahku sedang duduk menyesap kopi. Aku bersyukur karena ia tidak sedang
menegak alkohol lagi. Wajahnya tenang, aku melihat situasi. Dan aku sadar,
ayahku sedang dalam keadaan yang bisa kuajak untuk berkompromi. Aku berjalan
mendekatinya, menenteng sebuah kantong kecil dari kertas yang kuperoleh dari
toko kaset.
“Hi, ayah” sapaku
dengan tersenyum
“Hi, sayang” ah aku
merindukan ayahku memanggilku seperti itu, aku tersenyum. “Jadi, film apa yang
ingin kau tunjukkan?” ia bertanya penuh antusias yang kulihat di matanya. Aku
mengangkat kantong kecil tadi, lalu aku berlari mendekati televisi
menyalakannya, dan menyiapkan segalanya. Aku dan ayahku menyaksikan film A Walk to Remember yang tadi kubeli di
toko kaset bersama Freddie. Aku harap aku berani, dan kuharap keberanian ini
dapat mengubah segalanya.
Film selesai diputar,
aku menatap ayahku menanti komentarnya
“Filmnya bagus. Kurasa
ini film lama?” ia penasaran aku mengangguk
“Ayah…” desisku manja
dengan menatapnya, ayahku menatapku lembut “Apa aku harus aneh dan berpenyakit
seperti Jamie untuk membuatmu menunjukan kalau kau menyayangiku?” aku
mengucapkannya hati-hati. Aku takut menyinggunnya. Ia menatapku dengan tatapan
bersalah, aku tahu. Pikirannya jernih sekarang, maka inilah kesempatanku.
Tiba-tiba ayahku
memelukku dengan erat dan hangat. Sudah hampir dua tahun aku tak pernah
merasakan pelukan seperti ini.
“Maafkan ayah, sayang.
Maaf” aku mendengar suaranya agak tersendat, aku tahu akhirnya ia menangis. Aku
tahu ia menyesal
“Ayah, apa aku harus
seperti Jamie? Haruskah aku melakukannya untuk mendapat kasih sayangmu?”
tenggorokanku mulai tercekat, aku menelan ludah dengan susah payah. Aku tak
bisa menahan air mataku. Ayahku memegang kedua bahuku, aku melihatnya menatap
mataku. Ia mencoba untuk tersenyum
“Debby Rose, kau tak
perlu menjadi orang lain. Kau tak perlu berusaha mati-matian hanya untuk
mendapat kasih sayangku. Debby, kau harus tahu. Tanpa kau minta aku sudah
menyayangimu, sejak saat ibumu mengandungmu, sampai sekarang. Maafkan perbuatan
ayah yang merugikanmu, Debby. Ayah hanya tak mau kau merasakan luka yang ayah
rasakan setelah kehilangan ibumu”
“Tapi aku di sini,
ayah. Aku tak akan meninggalkanmu. Aku tak mau selalu sendirian di rumah, ayah.
Aku masih, dan aku akan selalu membutukanmu” aku menangis saat mengucapkannya,
ayahku mengelus puncak kepalaku dengan lembut, tak tahu apa yang harus ia
katakan lagi. Ia menarikku ke dalam pelukannya, ia masih mengelusi rambutku.
Saat aku merasa sedikit tenang kucoba untuk kembali berbicara.
“Ayah, kau mau berjanji
padaku?”
“Apapun itu sayang.
Apapun itu untuk menebus kesalahanku terhadapmu, sayang” aku mengela napas
untuk menetralkan suaraku
“Aku ingin ayah
berhenti melakukan hal sia-sia. Aku tak mau melihat ayah mabuk lagi. Aku ingin
melihat dan bertemu ayah saat aku berangkat sekolah ataupun aku kembali
kerumah. Aku ingin ayah ada untukku” aku merasakan sedikit guncangan dari atas
kepalaku. Aku tahu ayahku mengangguk
“Ayah berjanji, sayang.
Ayah berjanji”
***
Aku turun dari mobil,
aku melihat Freddie sedang menantiku di dekat gerbang. Aku melambaikan tanganku
sebelum mobil hitam itu pergi. Ya, ayahku mengantarku ke sekolah. Freddie
tersenyum manis ke arahku. Menyadari perubahan positif telah terjadi.
“Selamat Debby, kau
berhasil” ia mengacak rambutku sambil tersenyum
“Aku tak akan berhasil tanpa
bantuanmu, Freddie. Terima kasih” ia hanya tersenyum
“Oh ya, akhir pekan ini
ada pesta dansa homecoming. Kau akan
datang?” tanya Freddie padaku. Aku mengangkat bahuku
“Aku tak tahu. Tak akan
ada lelaki yang mau menjadi pasanganku” desisku sedih, tak menyadari bahwa
orang yang berada di sampingku juga lelaki. Aku yakin ia akan mengajakku
“Siapa bilang?
Bagaimana jika kau datang denganku?” usulan Freddie membuatku senang, entahlah.
Yang pasti aku mengangguk mengiyakan ajakannya.
Aku bersyukur,
keadaanku mulai membaik perlahan-lahan. Siswa yang meperolokanku dan Freddie
mulai berkurang, nyaris menghilang. Aku senang dengan kenyataan ini. Aku tahu,
yang dikatakan Freddie waktu itu benar. Semua akan berubah lebih baik. Dan aku
percaya itu sekarang.
Aku pulang dengan wajah
ceria, ketika melihat ayahku sedang memindah-mindahkan channel yang hampir semuanya tak menarik. Aku mengagetkannya dengan
menepuk kedua bahunya. Ayahku tersenyum, lalu tertawa kecil.
“Ayah, besok aku boleh
datang ke pesta dansa homecoming? Kau
akan ijinkan aku seperti Hegbert mengijinkan Jamie, kan?” gurauku
“Hm, tergantung. Siapa
yang menjadi Landon?” ayahku menatapku jahil “Apakah pemuda yang menunggumu di
gerbang tadi?” godanya
“Ya ayah, Freddie yang
akan menjadi Landon di pesta nanti” aku tersenyum, baru menyadari ayahku
sedaritadi menggodaku habis-habisan
“Baiklah, pergilah.
Jangan terlalu larut. Jangan melakukan hal aneh” ia menirukan cara Hegbert
berbicara
“Ah, baiklah ayah.
Terima kasih” aku mengecup pipinya. Lalu aku berjalan masuk menuju kamarku.
Kehidupanku tak akan
berubah jika Freddie tak muncul di kehidupanku. Mungkin Ini sebagian dari rencana Tuhan. Begitulah kata Jamie.
Entahlah aku sangat mengagumi remaja itu. Tapi, bukan berarti aku aneh dan
berbeda dari yang lain. Ya, aku memang berbeda, namun dalam pandangan yang lain
juga, mengertikan?
Nanti sore, Freddie
akan menjemputku pukul setengah lima sore. Aku sedang menata gaya rambutku yang
bingung harus kuapakan. Maka dengan segera aku ingat saat ibuku mengajarkanku
cara mengepang. Lalu dengan lihai aku mengepang rambutku dengan kepangan khas gadis
Prancis.
Setelah mengepang
rambut, aku mencari flat shoe yang
sesuai dan pas untuk penampilanku malam ini, aku mencoba sebuah flat shoe berwarna hitam pemberian
ayahku. Entah kakiku yang tak tumbuh atau bagaimana, sepatu itu masih muat di
kakiku. Maka kuputuskan untuk memakainya.
Handphone-ku
bergetar tanda pesan masuk, Freddie memberitahu bahwa ia sudah berada di
halaman rumahku. Sebuah senyuman terlukis di wajahku yang berhiaskan makeup tipis dan natural. Sebelum pergi
tak lupa aku berpamitan pada ayahku.
“Ayah, Landon sudah
menantiku di halaman. Aku pergi ya” aku mengganti nama Freddie dengan Landon
ketika aku berbicara dengan ayahku
“Baiklah sayang.
Hati-hati. Jangan pulang terlalu malam. Jangan sampai kau membersihkan muntahan
temanmu yang mabuk” candanya. Aku tertawa kecil
“Baiklah ayah Hegbert,
aku berangkat” aku berlalu setelah ayahku mengangguk.
Freddie menatapku
heran. Entahlah, apa ada yang aneh denganku? Maka aku melihat kebawah. Mungkin
saja dress ini kotor? Aku kembali menatap Freddie yang masih menatapku heran.
“Ada apa, Fredd? Ada
yang aneh?” tanyaku membuyarkan lamunannya. Ia terkesiap, ekspresinya sangat
lucu
“Ehm, tidak. Ayo masuk”
ia membukakan pintu mobil dan kami segera melesat menuju sekolah.
Freddie mengulurkan
tangannya padaku. It’s the time for
dancing. Dengan senang hati aku menerima uluran tangannya. Kami berdiri di
tengah-tengah aula bersama pasangan yang lain. Freddie melingkarkan tangannya
di pinggangku yang kurus, sementara kedua tanganku bergelayut di lehernya yang
jenjang. Freddie lebih tinggi dariku, jadi ketika ia mulai berbicara aku harus
mendongak untuk melihatnya.
“Kau tahu? Aku kira kau
tidak bisa berpenampilan seperti ini” guraunya membuatku tertawa kecil
“Tidak juga. Dulu,
setiap hari aku menggunakan dress, bahkan tak jarang aku mengenakan wedges bahkan high heels. Kau takkan pernah percaya jika kau melihat masa laluku”
aku menunduk menyembunyikan air mata yang akan turun. Ibuku, ibuku yang
menyuruhku menggunakan dress dan sepatu-sepatu itu.
“Jadi kenapa kau
merubah penampilanmu?” lelaki ini penuh dengan rasa ingin tahu
“Aku terlihat rapuh
ketika memakai dress. Maka untuk menutupi kerapuhanku, aku merubah
penampilanku. Mereka tak akan tahu apa yang ada di sini” aku berhenti sejenak
dengan menyentuh dadaku “Aku tak mau mereka tahu aku lemah, mereka tak tahu aku
sangat mudah dihancurkan. Jadi, dengan penampilan baruku, mereka mengenalku
sebagai Debby yang angkuh, sombong dan kuat. Aku merasa payah dengan pakaian
ini” eluhku dengan menatapnya. Freddie tersenyum tulus
“Bagiku, siapapun
dirimu. Kau terlihat sebagai siapa dirimu. Baik dibalik jeans, kaos ataupun dress. Kau terlihat sama di mataku. Kau kuat,
kau penuh ambisi. Kau tak kenal lelah. Dan kau, penuh dengan kasih sayang” aku
tersenyum malu dengan menundukan kepalaku.
“Kau ingat saat kau
melarangku untuk menjadi temanmu? Aku mulai melihat pribadimu. Kau tak mau
menyakiti orang lain. Aku tahu kau lebih baik terluka daripada mereka yang
terluka, tapi selebihnya. Aku bersyukur dapat mengenal dan berteman denganmu”
Freddie menutup mata lalu mengecup keningku dengan lembut
“Fredd, you know? It’s my first dance” ucapku senang dengan nada lembut
“Ya. I know. Cause you’ve ever told me. No boys
wanna dance with you. But, there was
a boy, he wants to dance with you again and again” Freddie tersenyum lagi
“Ah, really? Who was that boy?” aku tahu pasti ia menjawab ‘aku’. Well, karena hanya Freddie pasanganku
berdansa
“You know who, actually” aku tersenyum lalu memeluknya erat
“Ya, that boy was you. Thanks for everything. You
came and help me change everything” Freddie tak menjawab, namun ia membalas
pelukanku lalu mencium puncak kepalaku lagi. Terima kasih, Freddie Flickerman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar