I'd Never Lost my Best Friend
Pernahkah kau menyadarinya? Semuanya?
Segala hal yang pernah kita lalui bersama?
Oh ya, betapa aku lupa. Jika aku telah kehilangan sahabat terbaikku.
Beberapa minggu ini, aku dan sahabatku itu sama sekali tidak
saling menyapa. Seperti kami saling tidak mengenal satu sama lain. Aku tahu aku
hanya terlalu bungkam untuk meminta maaf. Tetapi, hal ini membuat tidurku tak
nyenyak setiap malam.
Aku berjalan menelusuri trotoar sepi di pinggiran kota. Aku memeluk
sebuah buku biologi yang biasanya menjadi bahan cemoohan sahabatku yang
beberapa minggu ini menghilang. Biasanya, dia mengataiku autis karena terlalu
sering bergulat dengan banyak buku. Namun, betapa aku tak dapat mengelak jika
aku memang senang dia berkata seperti itu.
Hari ini aku sudah berjanji akan bermain basket di taman
komplek. Biasanya pada saat seperti ini lapangan basket di taman komplek sedang
kosong. Maka, aku memutuskan akan berlatih basket, seorang diri.
Aku melakukan dribble dengan
malas. Oh ayolah. Mana mungkin kau merasa malas. Bukankah basket adalah olah
raga favorit mu? Oh ayolah! Aku mencoba kembali bersemangat. Mencurahkan banyak
emosiku ke dalam kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kesehatanku. Sedikit sepi
memang. Hanya ada satu atau dua orang yang melintas dipandanganku. Aku sangat
merindukan momen dimana Dean menggumamkan guyonan konyol yang membuatku lengah,
dan dia berhasil merebut bola basket ini dariku. Terkadang aku kesal. Namun,
saat kuingat lagi. Ternyata semua itu sangat menyenangkan.
Dean Vernandez. Dia menjauh dariku tanpa alasan yang jelas.
Maksudku, entahlah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku mencoba menyapanya
minggu lalu, ketika aku berpapasan dengannya saat aku menuju perpustakaan untuk
mengembalikan buku yang kupinjam tiga hari sebelumnya. Namun, bukan balasan
sapaan hangat yang menyelip di gendang telingaku atau terlintas di pandanganku.
Yang ada justru dia malah seperti tidak menanggapiku dan malah pergi
menjauhiku. Selepas kejadian itu, aku sering mencoba meneleponnya. Dia menjadi
sibuk dan jarang sekali ada waktu untukku, sahabatnya sejak kecil. Sekalipun
dia menjawab teleponku, dia malah menjawab pertanyaanku dengan nada ketus dan
terkesan malas. Semenjak itu, aku tak pernah lagi berkeinginan untuk menghubunginya.
Aku merasa sakit, ketika aku sadar Dean memutuskan untuk menjauh.
Aku tersungkur ketika bola basket itu memantul keras ke
arahku. Aku terduduk lelah membiarkan bola itu menggelinding entah kemana. Aku
ingin menangis. Tetapi aku juga tak mau melakukannya. Terlalu ambigu untuk
kulakukan.
Ya Tuhan, betapa aku berharap ada Dean di sini. Menemaniku
bermain basket, mengucapkan guyonan yang membuat kami tertawa bersama, dan
mengantarkanku pulang sore harinya ketika kami berdua sama-sama berlumuran
keringat. Oh Dean. Really, I miss you so
much betsie! Aku sadar ketika langit mulai menitikan air hujan. Namun, aku
tak beranjak. Aku lebih senang terduduk di tengah lapang dan menikmati air
hujan. Daripada berbaring lemah di atas kasur dengan berderai air mata, huh
terlalu melankolis. Aku menyadari air mataku terlalu banyak terbuang. Karena
aku merasa persahabatan yang telah
belasan tahun dilalui menjadi sia-sia. Aku benar-benar merasa kehilangan
Dean. Aku merindukannya.
***
Hari ini aku kurang sehat. Namun aku masih harus pergi ke
sekolah untuk melakukan prioritasku. Aku bersemangat untuk belajar, namun yang
membuatku tak bersemangat adalah bertemu Dean, karena dengan bertemu dengannya,
peganganku selama ini untuk mencoba menjauhinya menjadi sia-sia. Karena, kautahu
betapa aku merindukan tatapan hangat dari mata cokelat karamel yang meleleh
sahabatku itu? Aku sungguh tak dapat memungkirinya. Ketika aku menutup pintu
loker dan menguncinya, aku melihat Dean. Ada sedikit keraguan untuk sekedar
menyapanya. Namun, aku tak mau persahabatan belasan tahun ini menjadi sia-sia.
Aku berjalan menyusulnya, lantas menyapanya dengan hangat
"Dean!" Tegurku hangat dengan senyuman yang
membuatnya menoleh ke arahku.
"Hey!" Dean membalasnya dengan wajah yang tidak
kuharapkan. Wajahnya datar dan dingin
"Apa kabar? Sudah lama tak bertemu.." suaraku
menjadi pelan. Melihat ekspresi Dean yang begitu menyayat hati. Aku tak mau
menyerah! Namun menyakitkan, dia hanya tersenyum miring dan terkesan malas
untuk tersenyum
"Hm, by the way. Kau
ternyata banyak berubah" aku tersenyum tipis, pada saat yang bersamaan,
kenangan masa kecil kami saat berbagi permen kapas yang kami beli di sebuah
Pasar malam melintas.
"Maksudmu?" dia memperlambat langkah kakinya
menuntut penjelasan. Aku tersenyum dengan memeluk buku biologi yang biasanya
menjadi bahan ejekan Dean, yang kali ini seakan hanyalah benda asing dan tak
menarik lagi baginya. Aku mengembuskan napas ringan.
"Hm, kau tak jahil lagi seperti dulu. Aku merasa
kehilangan sahabat baikku" desisku memelankan suara. Dean merenung sambil
terus melangkah. "Baiklah, sampai nanti. Maaf menyita waktumu"
sambungku dan melangkah lebih cepat menuju kamar kecil.
Aku berdiri di hadapan kaca besar, aku menatap pantulan dari
diriku yang terlihat semakin rapuh dengan mata berair dan sedikit sembap. Aku
menyalakan keran air di wastafel dan mengambil air dan mengusapkannya pada
wajahku yang terasa hangat. Ini pasti efek menangis huh. Baiklah. Aku tak boleh
lemah. Aku tak mau terlihat semakin lemah lagi.
***
Satu bulan sudah Dean berubah. Kakakku sering menanyakan Dean
yang biasanya rutin mengunjungi rumahku sekedar mampir atau mengerjakan tugas
bersama. Oh Dean, please! I need you
right now! Aku benar-benar tak tahu. Tapi aku sangat merindukan Dean!
***
Tiga hari ini aku terbaring lemah di kasur putih dan dingin
ini. Selang infus menempel pada tangan kananku. Ya, aku dirawat karena
keadaanku drop dan sangat lemah. Aku tahu, aku hanya terlalu memikirkan banyak
hal. Err, aku kembali ingat pada sahabatku itu. Astaga! Padahal biasanya dialah
yang menjagaku ketika aku harus terbaring seperti ini di tempat ini. Tetapi
sekarang apa? Bahkan Dean tak tahu keberadaanku sekarang ini. Mungkin sudah
saatnya aku harus bersikap lebih dewasa dan menjadi kuat. Sulit memang.
Biasanya Dean menginap di sini dan mengelus kepalaku hingga aku benar-benar
terlelap tidur. Tapi sekarang dimana dia? Oh Dean, please. Accompany me here. I'm alone. Saat ini aku sedang menanti
kakak lelakiku datang, namun dia masih di Universitasnya sekarang. Huh, membosankan.
Lebih baik aku tidur saja.
***
Aku sedang terduduk seorang diri di sebuah ayunan di taman
kota dekat lapangan basket tempat aku berlatih. Aku mengenakan sebuah dress bermodel vintage berwarna krem. Kupegangi rambut yang tadi kukepang. Aku
duduk membenahi poni-ku yang berantakan. Mataku terbuka lebar ketika sebuah
suara yang sangat kukenali terdengar. Aku menatapnya lantas tersenyum manis dan
penuh kebahagiaan. Dia berlari kecil menghampiriku yang berdiri menantinya
dengan semangat. Dia memelukku erat, pelukan hangat yang sangat kurindukan. Aku
menanti momen ini. Aku tak mau melepaskannya. Aku menangis bahagia dalam
dekapannya. Dia mengelusi rambut kepangku. Dia tak berkutik, dia terdiam tanpa
berkata sedikitpun. Hanya terdengar isakan kecil dari mulutku. Aku benar-benar
merindukannya. "Aku merindukanmu.
Sangat merindukanmu" desahku dengan suara serak. Dia tak berkutik, dia
hanya mengangguk pelan. Dia mengecup puncak kepalaku, "Maaf, aku harus pergi" Bisiknya.
Aku menggeleng kuat, aku tak mau dia pergi. "Aku tak mau kau pergi lagi" aku
merajuk. Aku benar-benar merasakan sakit hati. Dia melepaskan pelukannya dan
berlalu tanpa pamit. Perlahan dia menghilang. Semakin jauh. Dan aku berteriak
semakin kencang, namun dia tak menggubris. Dia semakin menghilang dalam sebuah
kabut putih penuh misteri.
"Dean!
Kembali!" Aku berteriak, namun dia tak mendengar.
***
"Dean!" Aku tersentak dan meneriakan namanya.
Kepalaku pening. Kupegangi pelipisku dan sedikit memijatnya.
"Kenapa sayang?" suata itu terdengar tak asing, namun
bukan suara Dean. Kulihat ke arah asal pemilik suara
"Kakak. Sejak kapan di sini?" Tanyaku konyol
"Sedari tadi. Sejak kau terus meneriakkan nama
Dean" desis kakakku, Drew Julliano Jiff
"Aa? Benarkah?"
"Ya, exactly. Kau
meneriakkan namanya" aku mendengus kecewa. Ternyata semuanya hanyalah
mimpi
"Hm, ada masalah apa?" tanya kak Drew lembut dengan
duduk di sampingku dan mengelusi rambutku.
"Aku dan dia—" belum sempat aku menjelaskan, air mata sialan ini
malah mendahului aku. Air mata ini menjelaskan betapa aku sakit hati untuk
menceritakannya.
"Sshh, sudah jangan menangis. Tenangkan dirimu"
desis kakakku. Aku menarik napas, dan mencoba menenangkan diriku
"Dean menjauhiku" desahku sedih
"Kenapa?" Kak Drew mengelusi rambutku
"Aku tak tahu" desisku dengan menghambur kedalam
pelukan kakakku
"Ssh, sudah-sudah. Mungkin dia sedang dalam masalah dan
tak ingin kau ikut bersedih. Itu artinya dia tak suka melihatmu bersedih"
kak Drew mengecup puncak kepalaku. Aku masih terisak. Sedih menghadapi
kenyataan.
***
"Dean juga di rumah sakit ini" jelas kak Drew
dengan menyimpan tasnya
"Ha? Dia kenapa?" tanyaku khawatir
"Dia sakit, dia membutuhkan pendonor ginjal"
Degg! Hatiku tertusuk banyak jarum tajam.
Hatiku sakit. Sangat sakit. Air mataku mengalir deras di pelupuk mataku. Tidak. Tidqk mungkin itu Dean. Itu bukan
Dean! Aku yakin itu bukan Dean! Aku menggeleng keras dengan mata menatap
kakakku.
"Tidak kak. Kau pasti salah melihat" bodoh! Aku
salah berkata!
"Tidak sayang. Itu memang Dean. Aku telah menjenguknya. Sebenarnya
dia memintaku untuk tidak memberitahumu tentang ini. Dia tak mau membuatmu
khawatir, sayang" jelasnya. Aku tak dapat menenangkan diri. Aku terlalu
khawatir dan takut untuk tenang. Aku benci ini semua. Mengapa aku terlalu bodoh
untuk menebak-nebak? Ah! Bodoh! Betapa aku berharap bumi menelanku bulat-bulat
sekarang juga!
Membutuhkan waktu yang cukup lama agar kakakku menyetujuinya.
Sulit. Dia bilang ini terlalu berbahaya karena keadaanku yang drop saat ini.
Aku mendesak dan terus memaksanya. Akhirnya dia menyetujuinya. Oh God and my brother. I'm grateful. I love
you!
***
Sudah dua minggu aku di rumah sakit. Hari ini aku akan
pulang, karena keadaanku sudah cukup baik untuk aku kembali beraktivitas. Aku
bahagia karena aku dapat keluar dari tempat menyeramkan ini tanpa beban selain
memikirkan kesehatan Dean, sahabat baikku. Oh well. Kak Drew bilang Dean sudah satu minggu di rumah sakit. Oh I'll always pray to God everyday. To always
keep you, forever!
Aku menyesal tak menanyakan tentang kesehatannya dulu.
Kupikir dia hanya menghadapi masalah ringan, masalah keluarga, masalah dengan
teman klub basket atau bahkan masalah percintaan. Tetapi ternyata aku salah.
Dia sakit. Dan dia tak mau aku menguatirkannya. Dan apa buktinya sekarang? Yang
ada aku malah kaget mendengar kabar buruk itu dari kakakku. Dean menganggap
penyakitnya itu ringan. Dia pikir dia itu siapa? Apa dia pikir dia memiliki
banyak nyawa sehingga dia membengkalaikan dan tidak menjaga tubuh dan
kesehatannya? Bodoh! Lalu mengapa dia tak pernah mau jujur padaku? Dasar bodoh!
Kepalaku pening dan serasa berputas. Kuayunkan tangan kananku
dan membiarkannya memijat kecil pelipisku. Argh!
Hari ini aku akan berlatih basket lagi setelah dua pekan
kutinggalkan. Aku tahu ini adalah kesempatan yang brilian untuk berlatih karena
kakakku belum pulang. Jika dia ada di rumah, mana mungkin bisa aku berlatih?
Yang ada aku dilarang habis-habisan untuk berlatih olah raga kesukaanku ini.
Aku berjalan menenteng bola basket kesayanganku. Setelah tiba
di lapangan, aku mulai melakukan pemanasan agar tubuhku tidak terlalu kaku dan
menjadixsakit nantinya. Tak lupa kuikat rambut cokelat panjangku, lalu aku
memulai aksiku.
Sebenarnya aku terlalu memaksakan diriku, aku memang belum
benar-benar kuat. Tetapi aku yakin aku mampu melakukannya. Aku memilih untuk
berlatih dengan tujuan aku tak mau terlalu mengingat-ingat keadaan Dean. Bahkan
hingga saat ini aku masih belum menjenguknya. Aku tak tega. Aku tak mau
menangis di hadapannya. Hal itu hanya memperburuk kesehatannya. Jadi aku
memilih untuk tetap menantinya sehat dan mencoba menyapanya di sekolah jika
berpapasan.
Hari mulai sore, aku memutuskan untuk mengakhiri latihan.
Selain lelah, aku juga takut kakakku telah pulang dari Universitasnya. Jadi aku
segera bergegas pulang setelah melakukan pendinginan.
***
"Siapa suruh kau berlatih lagi? Hm?" omel kakakku
yang mendapatiku terbaring lemas di sofa ruangan tengah
"Kau tidak mengerti" elakku galak
"Justru aku mengerti, jadi aku melarangmu berlatih"
"Tapi aku tak mau—"
"Ya aku tahu, kau tak mau terus menerus terlarut
memikirkan kesehatan sahabatmu. Tapi tolong pikirkan. Aku tak mau kau sakit
lagi" suara kakakku melembut membuat kedua mataku memanas. Aku tak dapat
berucap kata, aku sadar aku salah.
"Coba kau pikirkan kembali. Kita berada jauh dari kedua
orang tua kita, sayang. Kumohon, dengarkan aku kali ini." Kakakku memegang
medua bahuku, aku mendongak dan menatapnya "Jangan membahayakan dirimu
sendiri demi orang lain" tak dapat kubendung lagi, aku menangis. Kak Drew
menarikku kedalam pelukannya, lalu dia mengelus rambutku. Dia mengecup puncak
kepalaku yang terasa berat. Argh! Sakit! Kepalaku berat. Aku memejamkan mataku
erat-erat. Mencoba berharap rasa sakit itu hilang. Sia-sia saja. Aku tahu itu.
***
Kubuka mataku, aku serasa melayang saat membuka mata. Tetapi,
ketika aku benar-benar sadar bahwa aku bukan di kamarku, aku segera mencari
kakakku. Dan benar saja, dia sedang tertidur di atas sofa putih gemuk itu. Aku
tahu tempat ini. Ini adalah, kamar rawat yang dua minggu lalu kutinggali.
Kupandang tangan kananku. Astaga. Ini terjadi lagi. Oh Tuhan! Aku tahu Dean
pasti telah pulang seminggu lalu. Aku tahu karena kakakku telah menjenguknya.
Kakakku bilang, Dean menanyakan keadaanku, kak Drew hanya berkata jika aku
baik-baik saja karena dia tak mau memperburuk keadaan. Setidaknya Dean masih
peduli.
Ini malah hari, kutahu itu karena langit di luar sana
berwarna gelap. Ohbaiklah, aku tak akan bisa tertidur.
Aku jadi teringat ketika aku sakit, Dean menjagaku setiap
hari. Sebelum sekolah, sepulang sekolah dia datang ke tempatku dirawat, bahkan
dia sering menginap hanya untuk memasktikan aku masih dalam keadaan yang sama
atau bahkan membaik. Dean ingin melihat setiap sekecil apapun perubahan yang
terjadi padaku.
"Dean, apa kau tak
lelah setiap hari harus menjagaku?"
"Kenapa aku harus lelah? Kenapa
aku harus mengeluh tentang kelelahanku sementara sahabatku sakit. Pasti nanti
kau kecewa melihatku lelah. Percayalah, aku tak apa"
"Kau tak mau berlatih dengan
teman-teman klub basketmu? Kau sudah sering meninggalkan latihan kan?"
"Ya, sebenarnya iya. Tetapi aku
tak bisa meninggalkan sahabatku sakit. Lagipula, berlatih denganmu di lapangan
taman kota lebih asyik daripada bersama teman klub"
"Kau ini"
"Aku berkata jujur kok. Oh ya,
kau tak akan menyuruh kak Drew membawa buku biologi raksasa sialan itu
kan?"
"Apa kau bilang? Buku biologi
raksasa sialan? Hahaha"
"Haha, itu benar kan? Jika buku
itu tak selalu kau bawa kemanapun kau pergi. Aku tak akan menyebutnya seperti
itu"
"Hahaha, Deaaaaan!"
"Apa? Kau cantik saat
tertawa" aku
tersipu saat itu. Aku tahu dia mencoba menghiburku. Aku menyayangimu Dean Hoffero Vernandez.
"Hey, mengapa belum tidur?" sebuah suara bass
membuyarkan lamunanku. Kak Drew terbangun dari tidurnya
"Aku tak bisa tidur kak" Kakakku menghampiriku lalu
meraba keningku
"Masih sakit?" aku mengangguk "Tidurlah, agar
tak terlalu sakit" aku menurut saja, Kak Drew merapikan selimut yang
memeluk tubuhku.
'Tok tok tok' Pintu
ruangan diketuk oleh seseorang di baliknya. Kak Drew menoleh menatap pintu
tersebut, sementara aku masih berusaha tertidur dengan memejamkan mataku. Masih
terdengar samar-samar suara mereka berbincang. Entahlah, paling hanya dokter
yang memberikan kabar jika dua atau tiga hari lagi aku dapat pulang. Maka kuputuskan
untuk tidak memerdulikannya.
Baru saja aku akan tidur, kak Drew mengguncangkan tubuhku
pelan. Aku membuka mata dan menatap kakakku kesal.
"Apa? Tadi menyuruhku tidurkan?"
"Ya, tetapi ada yang ingin bertemu denganmu"
jelasnya
"Siapa? Ini sudah malam kak. Mana mungkin ada yang ingin
menemui aku?"
"Tunggu sebentar" kak Drew melangkah dan mengajak
orang yang ingin menemuiku masuk.
Saat kulihat orang itu, aku nyaris mati di tempat. Tidak, ini
hanya mimpik aku yakin itu. Dua orang wanita dan seorang lelaki.
"Hope..." salah satu wanita itu berdesis lalu
berlari ke arahku lalu memelukku erat. Dia menangis, sama sepertiku
"Mengapa kau melakukannya? Kau membahayakan dirimu"
marahnya dengan nada lembut, tak ingin menyinggung. Aku menggeleng pelan
"Aku hanya ingin menyelamatkan orang yang kusayangi. Itu
saja" jelasku pelan, seakan sulit untuk diucapkan.
"Kau tak perlu melakukannya. Tetapi bagaimanapun, terima
kasih banyak. Aku sangat berterima kasih padamu. Bagaimana aku dapat membalas
kebaikan hatimu ini, adikku?" dia melepaskan pelukannya lalu menghapus air
mata yang tersisa di pipinya. Lalu dia menangkup kedua pipiku dan menatap
mataku dalam, lalu dia mengecup keningku tulus. Dia tersenyum, senyuman khasnya
mengingatkanku pada sahabatku.
"Dengan menjaga dan menyayangi adikmu saja sudah cukup
bagiku"
"Ya, I
promise" Dia mengangguk semangat. Aku hanya tersenyum
Wanita yang satunya lagi terlihat lebih tua dan matanya
berair. Beliau menghampiriku dan langsung memelukku dengan lembut. Beliau
mengecup puncak kepalaku.
"Terima kasih sayang" bisiknya
"Apapun itu, itu hanyalah sedikit yang dapat kulakukan,
Ma" aku membalas pelukannya.
Setelah beberapa menit, beliau melepaskan pelukannya, beliau
tersenyum padaku seraya berjalan mundur
Sekarang giliran si lelaki, dia tersenyum haru padaku. Dia
menahan tangis. Dia menghambur langsung memelukku. Tanpa pikir panjang aku
langsung membalas pelukannya
"You saved my
life. I'm grateful. Really grateful on you" bisiknya lembut tepat di
telinga kananku.
"Jagalah bagian tubuhku dalam dirimu. Sebagian kecil
hidupku kini milikmu, sahabatku" Dia tersenyum, senyuman yang sangat aku
rindukan. Senyuman manis sahabatku, Dean. Ya. Aku mendonorkan ginjalku
untuknya.
"Aku berjanji, aku akan menjaganya, dan aku akan selalu
menjagamu juga. Aku menyayangimu, Hope Budselly" aku tersenyum dan juga
aku menangis. Aku memeluknya semakin erat.
"Aku juga menyayangimu, Dean Vernandez" aku
memeluknya sekali lagi. Aku sangat merindukannya.
Keadaan mulai mencair. Tidak ada kecanggungan antara kami.
"Bagaimana kau berpikir untuk mendonorkan ginjalmu,
sayang?" tanya kak Alexa dengan menatapku lembut
"Entahlah, aku hanya khawatir tentang keadaan sahabatku
ini. Aku sangat menyayanginya"
"Yaa, dan itu membuatku bingung setengah mati karena dia
terus memaksaku untuk menyetujui keinginannya untuk membantu Dean. Aku sangat
khawatir" jelas kak Drew, ekspresinya membuat kami tertawa
"Kau terlalu nekad. Itu alasan mengapa aku tak
mengabarimu tentang penyakitku. Kau pasti akan menawarkan ginjalmu padaku. Aku
tahu itu akan terjadi jika sejak awal kau tahu. Aku sudah dapat menebaknya.
Tetapi, aku berterima masih padamu" ungkap Dean
"Ya, kau pikir aku akan membiarkan sahabatku kesulitan?
Lagipula, apa salahnya jika aku mendonorkan ginjal untuk orang yang
kusayangi?" aku tersenyum. Lalu Dean memelukku dengan hangat.
"Bolehkan jika aku malam ini menjagamu?" bisik Dean
"Tidak! Kau juga belum sembuh"
"Aku sudah sembuh. Berkat ginjalmu" dia tersenyum
padaku. "Ma, bolehkan jika aku merawat Hope?" tanya Dean pada Mama
Lissa. Beliau tersenyum lalu mengangguk.
"Tuh kan. Mama saja mengizinkan. Kenapa lau tidak
mengizinkan?"
"Aku tak mau kau sakit lagi. Aku mau kau benar-benar
sembuh"
"Aha. Jika kau seperti itu, maka aku juga ingin melihat
sahabatku sembuh" aku tersenyum
"Baiklah"
***
Hari mulai larut, kak Alexa dan mama Lissa pulang menuju
rumah. Sementara kak Drew terlelap di atas sofa.
"Kau tidak membawa buku raksasa sialan itu?"
"Buku biologi raksasa sialan" aku meralat
"Ya yang itu"
"Hmm, tidak. Kenapa?"
"Aku cemburu jika kau terus saja mentap buku itu. Kapan
kau akab menatapku seperti kau menatap buku itu?" tanyanya dengan
menompang dagu di hadapanku. Aku mendekat dan menatap mata permen karamel itu.
Aku tersenyum menggodanya
"Menatapmu seperti ini?" tanyaku, dia terdiam. Hey?
Dia tak menjawab, melainkan malah mengecup bibirku dengan
lembut. Dia menjauh, aku hanya tersenyum
"Love you" desisnya
lembut dengan serius. Aku hanya tersenyum tipis
Dia memelukku erat, hangat dan nyaman. Tuhan, jangan jauhkan
Dean lagi. Aku menyayanginya. Tulus menyayanginya.
"Boleh aku tidur dalam pelukanmu?" tanyaku
"Ya, tentu saja. Dengan satu syarat" aku mengangkat
ssbelah alisku menuntut jawaban
"Jadilah pendamping hidupku. Maka kau boleh selalu tidur
dalam dekapanku" ucapnya serius dengan tersenyum
"Baiklah" dia merentangkan kedua tangannya. Aku
menanggapinya, aku memeluknya. Kusandarkan kepalaku pada bahu kanannya. Air
mataku mengalir, berjatuhan membasahi bahunya. Napasku yang tercekat menerpa
tengkuknya. Aku bahagia. Cause finally I
know. I'll never lose my best friend. Well, and now I know. He feels the same
as me. I know, I must pray. God, I hope I was made for him. And he was made for
me~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar