Rabu, 05 November 2014

I'd Never Lost my Best Friend



I'd Never Lost my Best Friend

Pernahkah kau menyadarinya? Semuanya? Segala hal yang pernah kita lalui bersama?  Oh ya, betapa aku lupa. Jika aku telah kehilangan sahabat terbaikku.

Beberapa minggu ini, aku dan sahabatku itu sama sekali tidak saling menyapa. Seperti kami saling tidak mengenal satu sama lain. Aku tahu aku hanya terlalu bungkam untuk meminta maaf. Tetapi, hal ini membuat tidurku tak nyenyak setiap malam.

Aku berjalan menelusuri trotoar sepi di pinggiran kota. Aku memeluk sebuah buku biologi yang biasanya menjadi bahan cemoohan sahabatku yang beberapa minggu ini menghilang. Biasanya, dia mengataiku autis karena terlalu sering bergulat dengan banyak buku. Namun, betapa aku tak dapat mengelak jika aku memang senang dia berkata seperti itu.
Hari ini aku sudah berjanji akan bermain basket di taman komplek. Biasanya pada saat seperti ini lapangan basket di taman komplek sedang kosong. Maka, aku memutuskan akan berlatih basket, seorang diri.

Aku melakukan dribble dengan malas. Oh ayolah. Mana mungkin kau merasa malas. Bukankah basket adalah olah raga favorit mu? Oh ayolah! Aku mencoba kembali bersemangat. Mencurahkan banyak emosiku ke dalam kegiatan yang sangat bermanfaat bagi kesehatanku. Sedikit sepi memang. Hanya ada satu atau dua orang yang melintas dipandanganku. Aku sangat merindukan momen dimana Dean menggumamkan guyonan konyol yang membuatku lengah, dan dia berhasil merebut bola basket ini dariku. Terkadang aku kesal. Namun, saat kuingat lagi. Ternyata semua itu sangat menyenangkan.
Dean Vernandez. Dia menjauh dariku tanpa alasan yang jelas. Maksudku, entahlah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku mencoba menyapanya minggu lalu, ketika aku berpapasan dengannya saat aku menuju perpustakaan untuk mengembalikan buku yang kupinjam tiga hari sebelumnya. Namun, bukan balasan sapaan hangat yang menyelip di gendang telingaku atau terlintas di pandanganku. Yang ada justru dia malah seperti tidak menanggapiku dan malah pergi menjauhiku. Selepas kejadian itu, aku sering mencoba meneleponnya. Dia menjadi sibuk dan jarang sekali ada waktu untukku, sahabatnya sejak kecil. Sekalipun dia menjawab teleponku, dia malah menjawab pertanyaanku dengan nada ketus dan terkesan malas. Semenjak itu, aku tak pernah lagi berkeinginan untuk menghubunginya. Aku merasa sakit, ketika aku sadar Dean memutuskan untuk menjauh.

Aku tersungkur ketika bola basket itu memantul keras ke arahku. Aku terduduk lelah membiarkan bola itu menggelinding entah kemana. Aku ingin menangis. Tetapi aku juga tak mau melakukannya. Terlalu ambigu untuk kulakukan.

Ya Tuhan, betapa aku berharap ada Dean di sini. Menemaniku bermain basket, mengucapkan guyonan yang membuat kami tertawa bersama, dan mengantarkanku pulang sore harinya ketika kami berdua sama-sama berlumuran keringat. Oh Dean. Really, I miss you so much betsie! Aku sadar ketika langit mulai menitikan air hujan. Namun, aku tak beranjak. Aku lebih senang terduduk di tengah lapang dan menikmati air hujan. Daripada berbaring lemah di atas kasur dengan berderai air mata, huh terlalu melankolis. Aku menyadari air mataku terlalu banyak terbuang. Karena aku merasa persahabatan yang telah belasan tahun dilalui menjadi sia-sia. Aku benar-benar merasa kehilangan Dean. Aku merindukannya.
***

Hari ini aku kurang sehat. Namun aku masih harus pergi ke sekolah untuk melakukan prioritasku. Aku bersemangat untuk belajar, namun yang membuatku tak bersemangat adalah bertemu Dean, karena dengan bertemu dengannya, peganganku selama ini untuk mencoba menjauhinya menjadi sia-sia. Karena, kautahu betapa aku merindukan tatapan hangat dari mata cokelat karamel yang meleleh sahabatku itu? Aku sungguh tak dapat memungkirinya. Ketika aku menutup pintu loker dan menguncinya, aku melihat Dean. Ada sedikit keraguan untuk sekedar menyapanya. Namun, aku tak mau persahabatan belasan tahun ini menjadi sia-sia. Aku berjalan menyusulnya, lantas menyapanya dengan hangat
"Dean!" Tegurku hangat dengan senyuman yang membuatnya menoleh ke arahku.
"Hey!" Dean membalasnya dengan wajah yang tidak kuharapkan. Wajahnya datar dan dingin
"Apa kabar? Sudah lama tak bertemu.." suaraku menjadi pelan. Melihat ekspresi Dean yang begitu menyayat hati. Aku tak mau menyerah! Namun menyakitkan, dia hanya tersenyum miring dan terkesan malas untuk tersenyum
"Hm, by the way. Kau ternyata banyak berubah" aku tersenyum tipis, pada saat yang bersamaan, kenangan masa kecil kami saat berbagi permen kapas yang kami beli di sebuah Pasar malam melintas.
"Maksudmu?" dia memperlambat langkah kakinya menuntut penjelasan. Aku tersenyum dengan memeluk buku biologi yang biasanya menjadi bahan ejekan Dean, yang kali ini seakan hanyalah benda asing dan tak menarik lagi baginya. Aku mengembuskan napas ringan.
"Hm, kau tak jahil lagi seperti dulu. Aku merasa kehilangan sahabat baikku" desisku memelankan suara. Dean merenung sambil terus melangkah. "Baiklah, sampai nanti. Maaf menyita waktumu" sambungku dan melangkah lebih cepat menuju kamar kecil.
Aku berdiri di hadapan kaca besar, aku menatap pantulan dari diriku yang terlihat semakin rapuh dengan mata berair dan sedikit sembap. Aku menyalakan keran air di wastafel dan mengambil air dan mengusapkannya pada wajahku yang terasa hangat. Ini pasti efek menangis huh. Baiklah. Aku tak boleh lemah. Aku tak mau terlihat semakin lemah lagi.
***
Satu bulan sudah Dean berubah. Kakakku sering menanyakan Dean yang biasanya rutin mengunjungi rumahku sekedar mampir atau mengerjakan tugas bersama. Oh Dean, please! I need you right now! Aku benar-benar tak tahu. Tapi aku sangat merindukan Dean!
***

Tiga hari ini aku terbaring lemah di kasur putih dan dingin ini. Selang infus menempel pada tangan kananku. Ya, aku dirawat karena keadaanku drop dan sangat lemah. Aku tahu, aku hanya terlalu memikirkan banyak hal. Err, aku kembali ingat pada sahabatku itu. Astaga! Padahal biasanya dialah yang menjagaku ketika aku harus terbaring seperti ini di tempat ini. Tetapi sekarang apa? Bahkan Dean tak tahu keberadaanku sekarang ini. Mungkin sudah saatnya aku harus bersikap lebih dewasa dan menjadi kuat. Sulit memang. Biasanya Dean menginap di sini dan mengelus kepalaku hingga aku benar-benar terlelap tidur. Tapi sekarang dimana dia? Oh Dean, please. Accompany me here. I'm alone. Saat ini aku sedang menanti kakak lelakiku datang, namun dia masih di Universitasnya sekarang. Huh, membosankan. Lebih baik aku tidur saja.
***
Aku sedang terduduk seorang diri di sebuah ayunan di taman kota dekat lapangan basket tempat aku berlatih. Aku mengenakan sebuah dress bermodel vintage berwarna krem. Kupegangi rambut yang tadi kukepang. Aku duduk membenahi poni-ku yang berantakan. Mataku terbuka lebar ketika sebuah suara yang sangat kukenali terdengar. Aku menatapnya lantas tersenyum manis dan penuh kebahagiaan. Dia berlari kecil menghampiriku yang berdiri menantinya dengan semangat. Dia memelukku erat, pelukan hangat yang sangat kurindukan. Aku menanti momen ini. Aku tak mau melepaskannya. Aku menangis bahagia dalam dekapannya. Dia mengelusi rambut kepangku. Dia tak berkutik, dia terdiam tanpa berkata sedikitpun. Hanya terdengar isakan kecil dari mulutku. Aku benar-benar merindukannya. "Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu" desahku dengan suara serak. Dia tak berkutik, dia hanya mengangguk pelan. Dia mengecup puncak kepalaku, "Maaf, aku harus pergi" Bisiknya.

Aku menggeleng kuat, aku tak mau dia pergi. "Aku tak mau kau pergi lagi" aku merajuk. Aku benar-benar merasakan sakit hati. Dia melepaskan pelukannya dan berlalu tanpa pamit. Perlahan dia menghilang. Semakin jauh. Dan aku berteriak semakin kencang, namun dia tak menggubris. Dia semakin menghilang dalam sebuah kabut putih penuh misteri.
"Dean! Kembali!" Aku berteriak, namun dia tak mendengar.
***
"Dean!" Aku tersentak dan meneriakan namanya. Kepalaku pening. Kupegangi pelipisku dan sedikit memijatnya.
"Kenapa sayang?" suata itu terdengar tak asing, namun bukan suara Dean. Kulihat ke arah asal pemilik suara
"Kakak. Sejak kapan di sini?" Tanyaku konyol
"Sedari tadi. Sejak kau terus meneriakkan nama Dean" desis kakakku, Drew Julliano Jiff
"Aa? Benarkah?"
"Ya, exactly. Kau meneriakkan namanya" aku mendengus kecewa. Ternyata semuanya hanyalah mimpi
"Hm, ada masalah apa?" tanya kak Drew lembut dengan duduk di sampingku dan mengelusi rambutku.
"Aku dan dia" belum sempat aku menjelaskan, air mata sialan ini malah mendahului aku. Air mata ini menjelaskan betapa aku sakit hati untuk menceritakannya.
"Sshh, sudah jangan menangis. Tenangkan dirimu" desis kakakku. Aku menarik napas, dan mencoba menenangkan diriku
"Dean menjauhiku" desahku sedih
"Kenapa?" Kak Drew mengelusi rambutku
"Aku tak tahu" desisku dengan menghambur kedalam pelukan kakakku
"Ssh, sudah-sudah. Mungkin dia sedang dalam masalah dan tak ingin kau ikut bersedih. Itu artinya dia tak suka melihatmu bersedih" kak Drew mengecup puncak kepalaku. Aku masih terisak. Sedih menghadapi kenyataan.
***

"Dean juga di rumah sakit ini" jelas kak Drew dengan menyimpan tasnya
"Ha? Dia kenapa?" tanyaku khawatir
"Dia sakit, dia membutuhkan pendonor ginjal"
Degg! Hatiku tertusuk banyak jarum tajam. Hatiku sakit. Sangat sakit. Air mataku mengalir deras di pelupuk mataku. Tidak. Tidqk mungkin itu Dean. Itu bukan Dean! Aku yakin itu bukan Dean! Aku menggeleng keras dengan mata menatap kakakku.
"Tidak kak. Kau pasti salah melihat" bodoh! Aku salah berkata!
"Tidak sayang. Itu memang Dean. Aku telah menjenguknya. Sebenarnya dia memintaku untuk tidak memberitahumu tentang ini. Dia tak mau membuatmu khawatir, sayang" jelasnya. Aku tak dapat menenangkan diri. Aku terlalu khawatir dan takut untuk tenang. Aku benci ini semua. Mengapa aku terlalu bodoh untuk menebak-nebak? Ah! Bodoh! Betapa aku berharap bumi menelanku bulat-bulat sekarang juga!

Membutuhkan waktu yang cukup lama agar kakakku menyetujuinya. Sulit. Dia bilang ini terlalu berbahaya karena keadaanku yang drop saat ini. Aku mendesak dan terus memaksanya. Akhirnya dia menyetujuinya. Oh God and my brother. I'm grateful. I love you!
***
Sudah dua minggu aku di rumah sakit. Hari ini aku akan pulang, karena keadaanku sudah cukup baik untuk aku kembali beraktivitas. Aku bahagia karena aku dapat keluar dari tempat menyeramkan ini tanpa beban selain memikirkan kesehatan Dean, sahabat baikku. Oh well. Kak Drew bilang Dean sudah satu minggu di rumah sakit. Oh I'll always pray to God everyday. To always keep you, forever!

Aku menyesal tak menanyakan tentang kesehatannya dulu. Kupikir dia hanya menghadapi masalah ringan, masalah keluarga, masalah dengan teman klub basket atau bahkan masalah percintaan. Tetapi ternyata aku salah. Dia sakit. Dan dia tak mau aku menguatirkannya. Dan apa buktinya sekarang? Yang ada aku malah kaget mendengar kabar buruk itu dari kakakku. Dean menganggap penyakitnya itu ringan. Dia pikir dia itu siapa? Apa dia pikir dia memiliki banyak nyawa sehingga dia membengkalaikan dan tidak menjaga tubuh dan kesehatannya? Bodoh! Lalu mengapa dia tak pernah mau jujur padaku? Dasar bodoh!
Kepalaku pening dan serasa berputas. Kuayunkan tangan kananku dan membiarkannya memijat kecil pelipisku. Argh!

Hari ini aku akan berlatih basket lagi setelah dua pekan kutinggalkan. Aku tahu ini adalah kesempatan yang brilian untuk berlatih karena kakakku belum pulang. Jika dia ada di rumah, mana mungkin bisa aku berlatih? Yang ada aku dilarang habis-habisan untuk berlatih olah raga kesukaanku ini.
Aku berjalan menenteng bola basket kesayanganku. Setelah tiba di lapangan, aku mulai melakukan pemanasan agar tubuhku tidak terlalu kaku dan menjadixsakit nantinya. Tak lupa kuikat rambut cokelat panjangku, lalu aku memulai aksiku.
Sebenarnya aku terlalu memaksakan diriku, aku memang belum benar-benar kuat. Tetapi aku yakin aku mampu melakukannya. Aku memilih untuk berlatih dengan tujuan aku tak mau terlalu mengingat-ingat keadaan Dean. Bahkan hingga saat ini aku masih belum menjenguknya. Aku tak tega. Aku tak mau menangis di hadapannya. Hal itu hanya memperburuk kesehatannya. Jadi aku memilih untuk tetap menantinya sehat dan mencoba menyapanya di sekolah jika berpapasan.
Hari mulai sore, aku memutuskan untuk mengakhiri latihan. Selain lelah, aku juga takut kakakku telah pulang dari Universitasnya. Jadi aku segera bergegas pulang setelah melakukan pendinginan.
***

"Siapa suruh kau berlatih lagi? Hm?" omel kakakku yang mendapatiku terbaring lemas di sofa ruangan tengah
"Kau tidak mengerti" elakku galak
"Justru aku mengerti, jadi aku melarangmu berlatih"
"Tapi aku tak mau"
"Ya aku tahu, kau tak mau terus menerus terlarut memikirkan kesehatan sahabatmu. Tapi tolong pikirkan. Aku tak mau kau sakit lagi" suara kakakku melembut membuat kedua mataku memanas. Aku tak dapat berucap kata, aku sadar aku salah.
"Coba kau pikirkan kembali. Kita berada jauh dari kedua orang tua kita, sayang. Kumohon, dengarkan aku kali ini." Kakakku memegang medua bahuku, aku mendongak dan menatapnya "Jangan membahayakan dirimu sendiri demi orang lain" tak dapat kubendung lagi, aku menangis. Kak Drew menarikku kedalam pelukannya, lalu dia mengelus rambutku. Dia mengecup puncak kepalaku yang terasa berat. Argh! Sakit! Kepalaku berat. Aku memejamkan mataku erat-erat. Mencoba berharap rasa sakit itu hilang. Sia-sia saja. Aku tahu itu.
***

Kubuka mataku, aku serasa melayang saat membuka mata. Tetapi, ketika aku benar-benar sadar bahwa aku bukan di kamarku, aku segera mencari kakakku. Dan benar saja, dia sedang tertidur di atas sofa putih gemuk itu. Aku tahu tempat ini. Ini adalah, kamar rawat yang dua minggu lalu kutinggali. Kupandang tangan kananku. Astaga. Ini terjadi lagi. Oh Tuhan! Aku tahu Dean pasti telah pulang seminggu lalu. Aku tahu karena kakakku telah menjenguknya. Kakakku bilang, Dean menanyakan keadaanku, kak Drew hanya berkata jika aku baik-baik saja karena dia tak mau memperburuk keadaan. Setidaknya Dean masih peduli.
Ini malah hari, kutahu itu karena langit di luar sana berwarna gelap. Ohbaiklah, aku tak akan bisa tertidur.

Aku jadi teringat ketika aku sakit, Dean menjagaku setiap hari. Sebelum sekolah, sepulang sekolah dia datang ke tempatku dirawat, bahkan dia sering menginap hanya untuk memasktikan aku masih dalam keadaan yang sama atau bahkan membaik. Dean ingin melihat setiap sekecil apapun perubahan yang terjadi padaku.
"Dean, apa kau tak lelah setiap hari harus menjagaku?"
"Kenapa aku harus lelah? Kenapa aku harus mengeluh tentang kelelahanku sementara sahabatku sakit. Pasti nanti kau kecewa melihatku lelah. Percayalah, aku tak apa"
"Kau tak mau berlatih dengan teman-teman klub basketmu? Kau sudah sering meninggalkan latihan kan?"
"Ya, sebenarnya iya. Tetapi aku tak bisa meninggalkan sahabatku sakit. Lagipula, berlatih denganmu di lapangan taman kota lebih asyik daripada bersama teman klub"
"Kau ini"
"Aku berkata jujur kok. Oh ya, kau tak akan menyuruh kak Drew membawa buku biologi raksasa sialan itu kan?"
"Apa kau bilang? Buku biologi raksasa sialan? Hahaha"
"Haha, itu benar kan? Jika buku itu tak selalu kau bawa kemanapun kau pergi. Aku tak akan menyebutnya seperti itu"
"Hahaha, Deaaaaan!"
"Apa? Kau cantik saat tertawa" aku tersipu saat itu. Aku tahu dia mencoba menghiburku. Aku menyayangimu Dean Hoffero Vernandez.

"Hey, mengapa belum tidur?" sebuah suara bass membuyarkan lamunanku. Kak Drew terbangun dari tidurnya
"Aku tak bisa tidur kak" Kakakku menghampiriku lalu meraba keningku
"Masih sakit?" aku mengangguk "Tidurlah, agar tak terlalu sakit" aku menurut saja, Kak Drew merapikan selimut yang memeluk tubuhku.

'Tok tok tok' Pintu ruangan diketuk oleh seseorang di baliknya. Kak Drew menoleh menatap pintu tersebut, sementara aku masih berusaha tertidur dengan memejamkan mataku. Masih terdengar samar-samar suara mereka berbincang. Entahlah, paling hanya dokter yang memberikan kabar jika dua atau tiga hari lagi aku dapat pulang. Maka kuputuskan untuk tidak memerdulikannya.

Baru saja aku akan tidur, kak Drew mengguncangkan tubuhku pelan. Aku membuka mata dan menatap kakakku kesal.
"Apa? Tadi menyuruhku tidurkan?"
"Ya, tetapi ada yang ingin bertemu denganmu" jelasnya
"Siapa? Ini sudah malam kak. Mana mungkin ada yang ingin menemui aku?"
"Tunggu sebentar" kak Drew melangkah dan mengajak orang yang ingin menemuiku masuk.
Saat kulihat orang itu, aku nyaris mati di tempat. Tidak, ini hanya mimpik aku yakin itu. Dua orang wanita dan seorang lelaki.
"Hope..." salah satu wanita itu berdesis lalu berlari ke arahku lalu memelukku erat. Dia menangis, sama sepertiku
"Mengapa kau melakukannya? Kau membahayakan dirimu" marahnya dengan nada lembut, tak ingin menyinggung. Aku menggeleng pelan
"Aku hanya ingin menyelamatkan orang yang kusayangi. Itu saja" jelasku pelan, seakan sulit untuk diucapkan.
"Kau tak perlu melakukannya. Tetapi bagaimanapun, terima kasih banyak. Aku sangat berterima kasih padamu. Bagaimana aku dapat membalas kebaikan hatimu ini, adikku?" dia melepaskan pelukannya lalu menghapus air mata yang tersisa di pipinya. Lalu dia menangkup kedua pipiku dan menatap mataku dalam, lalu dia mengecup keningku tulus. Dia tersenyum, senyuman khasnya mengingatkanku pada sahabatku.
"Dengan menjaga dan menyayangi adikmu saja sudah cukup bagiku"
"Ya, I promise" Dia mengangguk semangat. Aku hanya tersenyum

Wanita yang satunya lagi terlihat lebih tua dan matanya berair. Beliau menghampiriku dan langsung memelukku dengan lembut. Beliau mengecup puncak kepalaku.
"Terima kasih sayang" bisiknya
"Apapun itu, itu hanyalah sedikit yang dapat kulakukan, Ma" aku membalas pelukannya.
Setelah beberapa menit, beliau melepaskan pelukannya, beliau tersenyum padaku seraya berjalan mundur

Sekarang giliran si lelaki, dia tersenyum haru padaku. Dia menahan tangis. Dia menghambur langsung memelukku. Tanpa pikir panjang aku langsung membalas pelukannya
"You saved my life. I'm grateful. Really grateful on you" bisiknya lembut tepat di telinga kananku.
"Jagalah bagian tubuhku dalam dirimu. Sebagian kecil hidupku kini milikmu, sahabatku" Dia tersenyum, senyuman yang sangat aku rindukan. Senyuman manis sahabatku, Dean. Ya. Aku mendonorkan ginjalku untuknya.
"Aku berjanji, aku akan menjaganya, dan aku akan selalu menjagamu juga. Aku menyayangimu, Hope Budselly" aku tersenyum dan juga aku menangis. Aku memeluknya semakin erat.
"Aku juga menyayangimu, Dean Vernandez" aku memeluknya sekali lagi. Aku sangat merindukannya.

Keadaan mulai mencair. Tidak ada kecanggungan antara kami.
"Bagaimana kau berpikir untuk mendonorkan ginjalmu, sayang?" tanya kak Alexa dengan menatapku lembut
"Entahlah, aku hanya khawatir tentang keadaan sahabatku ini. Aku sangat menyayanginya"
"Yaa, dan itu membuatku bingung setengah mati karena dia terus memaksaku untuk menyetujui keinginannya untuk membantu Dean. Aku sangat khawatir" jelas kak Drew, ekspresinya membuat kami tertawa
"Kau terlalu nekad. Itu alasan mengapa aku tak mengabarimu tentang penyakitku. Kau pasti akan menawarkan ginjalmu padaku. Aku tahu itu akan terjadi jika sejak awal kau tahu. Aku sudah dapat menebaknya. Tetapi, aku berterima masih padamu" ungkap Dean
"Ya, kau pikir aku akan membiarkan sahabatku kesulitan? Lagipula, apa salahnya jika aku mendonorkan ginjal untuk orang yang kusayangi?" aku tersenyum. Lalu Dean memelukku dengan hangat.
"Bolehkan jika aku malam ini menjagamu?" bisik Dean
"Tidak! Kau juga belum sembuh"
"Aku sudah sembuh. Berkat ginjalmu" dia tersenyum padaku. "Ma, bolehkan jika aku merawat Hope?" tanya Dean pada Mama Lissa. Beliau tersenyum lalu mengangguk.
"Tuh kan. Mama saja mengizinkan. Kenapa lau tidak mengizinkan?"
"Aku tak mau kau sakit lagi. Aku mau kau benar-benar sembuh"
"Aha. Jika kau seperti itu, maka aku juga ingin melihat sahabatku sembuh" aku tersenyum
"Baiklah"
***

Hari mulai larut, kak Alexa dan mama Lissa pulang menuju rumah. Sementara kak Drew terlelap di atas sofa.
"Kau tidak membawa buku raksasa sialan itu?"
"Buku biologi raksasa sialan" aku meralat
"Ya yang itu"
"Hmm, tidak. Kenapa?"
"Aku cemburu jika kau terus saja mentap buku itu. Kapan kau akab menatapku seperti kau menatap buku itu?" tanyanya dengan menompang dagu di hadapanku. Aku mendekat dan menatap mata permen karamel itu. Aku tersenyum menggodanya
"Menatapmu seperti ini?" tanyaku, dia terdiam. Hey?
Dia tak menjawab, melainkan malah mengecup bibirku dengan lembut. Dia menjauh, aku hanya tersenyum
"Love you" desisnya lembut dengan serius. Aku hanya tersenyum tipis
Dia memelukku erat, hangat dan nyaman. Tuhan, jangan jauhkan Dean lagi. Aku menyayanginya. Tulus menyayanginya.
"Boleh aku tidur dalam pelukanmu?" tanyaku
"Ya, tentu saja. Dengan satu syarat" aku mengangkat ssbelah alisku menuntut jawaban
"Jadilah pendamping hidupku. Maka kau boleh selalu tidur dalam dekapanku" ucapnya serius dengan tersenyum
"Baiklah" dia merentangkan kedua tangannya. Aku menanggapinya, aku memeluknya. Kusandarkan kepalaku pada bahu kanannya. Air mataku mengalir, berjatuhan membasahi bahunya. Napasku yang tercekat menerpa tengkuknya. Aku bahagia. Cause finally I know. I'll never lose my best friend. Well, and now I know. He feels the same as me. I know, I must pray. God, I hope I was made for him. And he was made for me~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar