Rabu, 05 November 2014

We Meet Again



We Meet Again
Love is just a word, until someone special gives it meaning

Aku berjalan menenteng tas berisi sahabat terbaikku, kekasih sejatiku yang akan membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Laptop. Hanya itu yang ada dalam tas itu. Gila memang, kekasihku hanyalah sebuah Laptop.
Aku memasuki Cafe dua puluh empat jam langgananku. Aku segera mengambil tempat dan mulai bekerja. Seorang pelayan yang mungkin sudah tahu apa yang biasa kupesan, hanya bertanya “Seperti biasa, Mrs?” dan aku menjawab “Ya!” maka beberapa menit kemudian pesanan akan segera datang.
Aku mengetukkan jariku di atas meja kayu ini. Aku bingung, kata apa yang harus aku ketik. Aku kehilangan inspirasi. Aku harus bagaimana lagi setelah akhirnya aku malah bingung seperti ini. Tak lama setelah aku terdiam, pesananku datang. Mungkin ada baiknya aku menenangkan pikiranku dengan secangkir cokelat panas yang masih mengepul di sana. Di sampingnya sepiring kentang goreng dilengkapi sedikit saus tomat di dalam piring itu. Pesanan yang aneh memang, segelas cokelat panas dan seporsi kentang goreng dengan saus tomat. Tapi tak apa, lagipula aku juga menyukainya. Ah sudahlah, kembali pada kebingunganku ini.
Kusesap sedikit demi sedikit cokelat kental dalam cangkir ini. aku membaca ulang kalimat-kalimat yang sebelumnya aku tulis, sambil sesekali meraih potongan kentang goreng yang ada di dalam piring tadi. Aku mengangguk kecil ketika aku paham dan mulai lebih mendalami alur cerita yang sedang aku tulis. Karyaku ini setengah jalan, setengah lagi naskah ini akan sampai di publishing yang tak hentinya menanyakan karya terbaruku. Ah, aku serasa dikejar para depkolektor.
Dalam naskah yang sedang kubuat, yang kuberi judul Memories. Yang memang pada dasarnya aku memasukan satu atau dua kejadian yang pernah kualami sebelumnya, aku hanya ingin menguras emosi para pembaca, setidaknya aku mencoba semampuku walaupun aku tak tahu apa yang akan terjadi pada para pembaca. Menulis sangat menyenangkan. Bagiku, Writing is hard to begin, but it’s easy when you have begun. Entahlah bagaimana, tetapi memang seperti itu adanya. Aku mengetikkan kalimat berikutnya, dan aku sangat terlarut sampai aku menyadari, malam sudah larut. Aku harus segera pulang. Tempat tidur, selimut dan teman-temannya pasti telah menantiku sedaritadi.
***
Hari ini aku memutuskan akan mengetik di rumah saja. Semoga aku dapat melakukannya, ya setidaknya aku berharap begitu. Walaupun kupikir menulis di sebuah taman penuh bunga dan udara segar yang sepi akan lebih meningkatkan inspirasiku, ah sudahlah lupakan. Hal itu hanya akan mengingatkan aku pada seseorang. Satu-satunya orang yang menentang karierku dan meninggalkanku karena obsesiku ini. Ah, sudahlah.
Aku sangat terlarut menulis naskah. Bukan karena terlarut, namun aku dikejar waktu agar aku lebih cepat menyelesaikannya. Dalam pengalamanku bertahun-tahun menulis, sebisa mungkin aku tidak mengandalkan seorang editor sebagai bantuan. Dan sebisa mungkin aku melakukannya sendiri, tanpa merepotkan orang lain.
Hari mulai sore, seharian ini aku tidak makan. hanya sesekali meminum air mineral untuk menghilangkan dahaga. Perutku mulai memberontak, aku lapar. Jadi, aku memutuskan akan menulis di Cafe langgananku lagi.
“Seperti biasa, Mrs?” tanya seorang pelayan dengan ramah
“Ya, terima kasih” pelayan itu sedikit membungkuk lalu ia berlalu
Seperti Cafe pada umumnya, seluruh sudut ruangan ini pasti dipenuhi gema musik. Aku tersenyum sambil menompang dagu pada tanganku. Lagu ini, adalah lagu kesukaanku. Ah, kuharap begitu. Begin again. Lagu yang dilantunkan oleh Taylor Swift ini membuatku sangat berharap aku berada dalam posisi gadis dalam lagu itu. Dalam lagu mungkin she’s just waiting in a couple months. But me, I’m waiting in a couple years for him. Ah sudahlah. It was only a wishful thinking.
Aku menutup mataku mencoba menikmati lagu yang sedang diputar.
“Hey” sapa seseorang dengan tangan kanan yang hinggap lembut di bahu kiriku. Aku terkesiap dan segera membuka mataku, aku menoleh ke arahnya. Dan aku tahu aku langsung menahan napasku. Aku pasti terlarut dengan khayalanku, iya kan? “Kukira aku salah orang. Ternyata tidak” pemuda itu tersenyum
“Ah? Maksudmu?” tanyaku konyol yang membuatnya terkikik, ia menarik kursi di hadapanku
“Hm, tidak. Bagaimana kabarmu, Abby McBrafley?”
“Ah, a-aku baik-baik saja. Kau sendiri, apa kabar, Riverious?”
“Aku baik-baik saja. Sangat baik malah” ia tersenyum menatapku, aku hanya menunduk
“Sedang apa kau di sini?” tanyaku ingin tahu
“Kebetulan Cafe ini milik pamanku, jadi aku mampir sebentar. Kau sendiri?”
“Kau tahu apa pekerjaanku, kan?”
“Ya. Oh pasti kau menulis naskahmu? Ditemani segelas cokelat panas dan sepiring kentang goreng?” tanyanya ketika ia mengintip pesananku
“Ya, kau benar” ah kenangan itu. Ya Tuhan
“Ternyata kau berhasil menggapai keinginanmu. Ya, setidaknya ketika tak ada orang yang mengekang obsesimu, kau berhasil. Bahkan kau lebih baik dari sebelumnya” desisnya
“Tentu saja, bahkan kau sudah tahu itu semua sejak dulu. Dan obsesiku telah membantuku melalui keterpurukanku atas perlakuanmu” ucapku kesal. Riverious mengembuskan napasnya
“Oh, aku minta maaf untuk itu”
“Tak perlu minta maaf. Kepergianmu menghasilkan buah manis yang dapat kupetik, Riverious”
“Tapi sedikitnya kau kan kesulitan karena aku”
“Tidak, justru aku berterima kasih atas kepergianmu. Sakit yang kauberikan waktu itu. Membuatku mendapatkan banyak inspirasi untuk kutuangkan ke dalam sebuah karya. Dan aku bersyukur untuk itu. Aku tahu, Tuhan berkehendak di balik semua ini” aku mengalihkan pandangan. Dan aku melihat Riverious McCurves tengah menatapku kagum
“Kau semakin dewasa, Abby” pujinya
“Terima kasih, aku banyak belajar dari masa lalu yang tak pernah ingin kuingat sebenarnya”
“Tapi aku tahu, kau tak pernah melupakannya” aku menatapnya kaget, menuntut penjelasan atas pernyataannya “Karena, jika kau melupakanku dan semuanya. Kau bahkan sama sekali tidak akan sudi untuk sekedar membalas sapaanku”
“Tidak juga, aku hanya ingin berubah. Maksudku, merubah kebiasaan jelekku yang dulu”
“Jangan mengelak, Abby. Aku telah mengenalmu lebih dari tiga tahun” oh baiklah. Tuhan, Kau boleh merutukku sekarang
“Ah, aku bukanlah Abby yang dulu. Aku bukanlah Abby yang dengan mudah dapat disakiti begitu saja oleh semua orang. I’m stronger than before, you should know about that, River” ucapku angkuh
“Ya, aku percaya itu. Jika kau tak berubah. Kau tak akan seperti sekarang. Tapi aku yakin, ada beberapa hal yang tidak berubah dari dalam dirimu, Abby” ia menatap dalam mataku
“Benarkah? Apa itu?”
“Entahlah, kau yang lebih tahu semuanya, Abby”
Aku menunduk merenungkan apa maksud kata-katanya. Aku tidak mengerti. Bagian mana yang tidak berubah? Ah, Riverious!
“Baiklah, sampai jumpa nanti Abby. Kuharap, kita akan selalu bertemu di hari-hari berikutnya. Bye” ia tersenyum sambil berlalu meninggalkan meja dengan gaya cool-nya. Apa yang tidak berubah River? Ah…
***
Di hari-hari berikutnya, Riverious selalu ada di Cafe pamannya. Ia menemaniku melanjutkan naskah yang sebentar lagi selesai ini. Riverious kadang-kadang ketiduran saat menemaniku. Wajahnya tenang, dan aku merindukan wajah tenangnya itu. Selain ketiduran saat menemaniku, biasanya ia akan memasang headset dan bersenandung-ria dengan suara yang kecil, alasannya agar ia tak mengganggu konstentrasiku. Padahal aku tak masalahkan itu semua.
Hari ini, Riverious belum datang. Padahal biasanya ia sudah duduk manis sambil menikmati segelas jangkung es jeruk kesukaannya. Tapi, ia belum datang sekarang. Entahlah. Baiklah, tak apa. Lagipula, naskahku juga sudah selesai. Aku kesini hanya untuk menikmati kentang goreng dan em mungkin akan kucoba minuman kesukaan Riverious.
“Pesanan seperti biasa, Mrs?” tanya pelayan dengan ramah dan bersiap mencatat pesanan
“Tunggu sebentar, tidak. Aku ingin memesan kentang goreng dan es jeruk saja, ya” aku tersenyum pada pelayan yang telah selesai menulis pesananku. Pelayan itu sedikit membungkuk dan berlalu untuk menyiapkan pesananku.
Dimana dia ya? Ah, apalah aku ini. Ada apa aku malah memikirkan heartbreaker itu? Ah, sudahlah, biarkan saja. Mungkin dia sedang berkencan dengan kekasih barunya. Aku menajamkan pandanganku, aku melihat Band Cafe yang sudah lama tak muncul di sini. Seorang gadis yang mungkin berusia tujuh belas tahun menjadi vocalist. Suaranya lembut, dan ia mendendangkan sebuah lagu.
You were my sun
You were my earth
But you didn’t know all the ways I love you
So you took a chance and made other plans
But I’ll bet you don’t think that they would came crashing down
Hey, itu lagu lama. Dan itu mengandung banyak kenangan di dalamnya. Wow! Bagaimana Cafe ini sangat memahami isi hati pelanggan? Ah…}
Aku menikmati lagu itu sambil meminum es jeruk dengan es batu di dalamnya. Hm, nikmat juga. Aku menggumamkan lagu itu sesekali.
You told me you loved me
But why did you leave me all alone?
Now you tell me you need me
When you call me on the phone
But boy I refuse you must got me confuse with some mother girl
Your bridges are burn now it’s your turn to cry
Cry me a river, cry me a river
Sebuah tangan yang hinggap di bahu kananku mengagetkanku. Aku mengembuskan napas lega ketika kulihat yang datang adalah Riverious.
“Mulai mencoba minuman kesukaanku?” godanya, aku tersenyum
“Tidak juga, aku hanya mencoba menu baru”
“Baiklah, jika begitu aku juga ingin mencoba menu yang biasa kau pesan” lalu ia memanggil seorang pelayan.
Ya Tuhan, apa ini perasaanku saja atau memang pemuda di hadapanku ini memang tampan saat memakai setelan kemeja dan celana hitam serta jas hitam menutupi tubuhnya? Ah sudahlah. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Lagipula siapa dia untukku?
“Hey. Kau melamun?”
“Aih, tidak. Memang kenapa?”
“Sedaritadi kau menatap penyanyi di sana”
“Oh itu. Ya, karena aku tahu dan menyukai lagu yang dinyanyikannya”
Cry me a river?” aku mengangguk mantap tanpa menatap Riverious “Maafkan aku” aku segera menatapnya heran
“Maaf? Untuk apa?”
“Maaf karena ulahku dulu. Karena aku sempat menjadi penghalang dalam usahamu meraih impianmu. Maafkan aku juga karena aku meninggalkanmu hanya karena masalah kecil. Aku hanya tak ingin selalu kau acuhkan, selalu diduakan oleh naskah-naskah yang kau buat. Tetapi sekarang aku tahu kenapa. Karena sekarang aku juga memiliki sebuah mimpi, sebuah impian terbesar untuk kugapai, dan aku sadar betapa aku juga tak ingin ada orang yang melarangku. Maafkan aku” ia berdiri dan menarikku ke dalam dekapannya. Aku menatapnya penuh rasa syukur. Bersyukur karena ia sudah mau berubah. Menjadi yang lebih baik.
“Baiklah, lupakan saja masa lalu itu. Aku tak mau mengingatnya lagi. Lagipula, ada kebaikan dibalik semua hal yang sempat terjadi dulu. Sudahlah, daripada kau terus-menerus mengatakan maaf, lebih baik kau berjuang untuk mencoba menggapai semua impianmu, Riverious” aku tersenyum seraya melepaskan diri dari dekapannya, aku memegang kedua lengannya, lalu beralih memegang bahunya “Semangat! Kau pasti bisa” ia mengangguk. Dan kami kembali terlarut dalam obrolan malam yang sudah lama sekali tak kami lakukan.
***
Memories telah terbit dan tersebar hampir di seluruh toko buku kota ini. Hari ini, aku akan melaksanakan book launching event di sebuah toko buku. Aku harus menyiapkan tangan kananku, maksudku karena hari ini aku harus menandatangani puluhan buku yang para pembaca beli.
Riverious telah berjanji bahwa ia akan berada di barisan terdepan untuk menandatangani buku yang dibelinya. Tapi, antrean pembaca buku sudah cukup banyak, dan Riverious belum menampakkan dirinya. Ah sudahlah. Lebih baik aku menandatangani buku-buku di hadapanku.
Sudah sekitar tujuh puluh buku lebih yang kutandatangani. Setelah ini adalah sesi tanya jawab yang hanya berlangsung untuk beberapa pertanyaan sebelum acara diakhiri. Seorang gadis berkacamata mengangkat tangan kanannya, ia ingin bertanya.
“Hello, I’m Mandy. Aku ingin bertanya. Darimana kau mendapat ide judul bukumu, Abby?” tanya gadis itu. Lalu ia kembali duduk dan semua yang hadir memerhatikanku
“Hello Mandy, ide judul bukuku? Ah itu mudah. Kita tahu sendiri bahwa memories itu berarti kenangan. And you know? The side of me really loves memories. Aku sangat menyukai kenangan, sebisa mungkin aku selalu mengingat mereka, ya walaupun terkadang kenangan itu malah menyakitiku ketika aku mengingatnya. Well, but it’s me” gadis itu mengangguk lalu tersenyum puas. Lalu seorang pemuda kurus dengan rambut brown spike mengangkat tangannya
“Lalu apakah ada beberapa kenangan yang kau tuangkan ke dalam buku ini?”
“Ah, pertanyaan yang menarik. Tentu saja ya. Kau tahu, terkadang true pieces of writing akan membuat emosi pembaca terkuras. Jadi, tentu saja aku menuangkan beberapa kenangan yang kualami ke dalam buku ini” pemuda itu mengangguk-angguk. Kurasa pertanyaan sudah cukup, maka aku menyarankan pembawa acara untuk menutup acara. Namun, seorang pemuda mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Terpaksa closing dibatalkan untuk satu pertanyaan lagi
“Jadi, dalam buku ini, kau menceritakan tentang seorang pria di masa lalumu?”
“Ya, kau benar tuan” aku memandang pemuda itu jengkel, sementara ia menatapku jahil
“Apa bisa kau publikasikan siapa pemuda itu, Abby?” desaknya. Semua yang hadir saling bergumam dan sesekali menganggukkan kepala, Astaga! Awas kau!
“Ya, Abby tak ada salahnya memberitahu para penggemarmu siapa yang selalu menjadi pemeran utama dalam buku-bukumu” sang pembawa acara mungkin ikut penasaran. Tapi baiklah, itu tantangan mudah. Dan aku akan membalasnya dengan mudah.
“Baiklah, dia mantan kekasihku. Dan sebelum aku berhasil menjadi penulis seperti sekarang, dia pernah mengekangku habis-habisan dengan alasan tak jelas. Aku tidak tahu-menahu apa maksudnya, tapi saat itu aku sangat membenci pemuda itu. Jujur aku menyayanginya, dulu. Sehingga saat ia meninggalkan aku, aku sedikit kesulitan dalam beberapa hal. Ya, just like it’s hard just to breathe. Tapi, aku belajar menjadi lebih dewasa dan kembali kepada impian besarku menjadi seorang penulis, dan luka juga rasa sakit yang ia tinggalkan menjadi buku pertamaku. Aku sangat bertertima kasih kepada mantan kekasihku itu” aku tersenyum penuh kemenangan ke arah pemuda itu
“Bisa kau publikasikan namanya, Abby?” tanya Mandy. Astaga, permintaan mereka mulai kacau
“Aahm, mungkin ti-“
“Baiklah, lebih baik kau publikasikan siapa pemuda itu. Para penggemarmu menggila ingin tahu, Abby” pihak perwakilan publishing-ku membisiki aku. Aku menunduk ragu untuk sesaat. Ini sama saja aku mengungkapkan cinta di depan publik. “Ayolah, tak ada ruginya” bisiknya lagi
“Ah, baiklah. Pemuda itu adalah pemuda yang membuat closing ditunda” desisku, berharap suaraku tiba-tiba habis dan suaraku tak terdengar. Tapi semua hanya harapanku saja, semua dapat mendengarnya.
Semua mata tertuju pada Riverious McCurves. Ia menatapku dengan tersenyum lebar. Aku hanya menunduk malu. Persetan denganmu, Riverious!
“Nah, sekarang kita tahu siapa sosok yang selalu menjadi inspirasi Abby dalam menulis naskahnya. Dan, ternyata pemuda itu berada dalam Book launching event ini. How cute it was. Tapi, bagaimanapun acara harus ditutup. Aku mewakili penulis, penerbit dan semua yang terlibat dalam buku ini, mengucapkan banyak terima kasih. Selamat sore”
Acarapun selesai, beberapa pembaca mendekatiku dan memintaku untuk berfoto. Ya Tuhan, aku lelah sekali. Keadaan toko mulai melenggang. Para pengunjung sudah berhamburan keluar toko setelah mendapat foto. Riverious mendekatiku dengan tersenyum lebar. Sementara aku hanya menatapnya dengan tajam.
“Itulah satu-satunya hal yang kuketahui tak pernah berubah, Abby. Kau selalu mengingatku. Dan aku tahu dibalik ingatan tentangku itu, Abby” ia tersenyum lagi.
“Dan kau datang terlambat. Kau mengingkari janjimu” aku mengerutkan bibirku seperti anak kecil meminta permen lolly. Aku hanya mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum lalu merangkulku
“Maafkan aku. Baiklah, akan ku traktir makan malam, bagaimana?” ia memang pandai merayuku
“Boleh, tentu saja boleh”
“Kau mau makan di restoran mana?” tanyanya seraya kami keluar dari toko. Kami menuju parkiran, dan segera memasuki mobilnya yang terparkir paling ujung dekat pintu.
“Di Cafe pamanmu saja, boleh?”
Anywhere it was. As long as I’m with you. It’s okay” aku tersenyum
***
Kami tiba di Cafe. Kami segera menuju meja kosong, dan memesan makanan. Aku mendengar lagu yang operator putar. Entah suatu kesengajaan atau kebetulan. Lagu yang diputar adalah Begin Again kesukaanku.
You pull my chair out and help me in
And you don't know how nice that is
But I do, I do
Entah sudah direncanakan atau tidak. Tadi, Riverious menarikkan kursi untukku. Ah ya Tuhan.
And you throw your head back laughing like a, little kid
I think it's strange that you think I'm funny cause, he never did
And I've been spending the last eight months
Thinking  all love ever does is break, burn, and end
But on a Wednesday in a café, I watched it begin again
Bukan, bukan delapan bulan. Namun tiga tahun. Dan, tunggu. Hari apa ini? Is it Wednesday today? Sungguh, ini adalah hari rabu. Aku ingat, pihak publishing-ku berkata bahwa hari rabu aku akan melakukan Book Launching Event. Ah, ini hanya suatu kebetulan
“Jadi, sebagaimana yang kau katakana dalam bukumu. That, you never make another relationship, because you still in love with your ex-boy is real?” ia membuka pembicaraan
“Hm, tidak juga. Aku hanya melebih-lebihkan untuk menguras emosi pembaca. Kau tahu itu sudah hampir tiga tahun yang lalu, River. Mana mungkin aku mengaharapkannya lagi?”
“Dan kau tahu, Abby? Betapa aku ingin mengatakan ini. kau pembohong yang buruk. Kau tahu? Aku hanya melebih-lebihkan untuk menguras emosi pembaca. Kau tahu itu sudah hampir tiga tahun yang lalu, River. Mana mungkin aku mengaharapkannya lagi?” ia mulai menirukan cara bicaraku
“Apa maksudmu, Riverious?” aku bingung
“Kau tahu? Aku sudah lama mengenalmu. Aku tak mungkin lupa dengan sikap dan perilakumu. Kau tak akan pernah melupakan orang yang kau sayangi, Abby. Aku ingat itu, kau pernah mengatakannya. Dan aku akan selalu ingat itu, untuk mengetahui. Apa kau masih menyayangiku atau tidak. Aku sudah memahami sifatmu, Abby” ia tersenyum lembut. Aku menunduk malu
Riverious mengangkat daguku dengan tangan kanannya. Ia membuat mataku bertemu dengan matanya. Ia tersenyum lagi membuat hatiku terenyuh. Ia mengeluarkan sebuah kotak biru tua dari dalam saku jaketnya. Ia membukakannya, sebuah cincin dengan batu berlian mungil berwarna biru shapiere terpampang indah di sana. Aku terbelalak kaget melihatnya. Oh God, You know? I love You!
So Abby McBrafley, will you marry me?” tanyanya dengan senyuman lembut nan tulus yang membuatku tak mampu berkata apa-apa. Aku tersenyum malu, lalu mengangguk kecil ke arah Riverious. Ia tersenyum lalu menyematkan cincin biru shapiere itu di jari manisku. Lalu ia memelukku dengan hangat.
But on a Wednesday at a café. I whatched them begin again…



5 komentar: